Ibadah Wanita Bethel Indonesia Mawar Saron – Pdm. Jean Rondonuwu, S.Th
Bacaan Alkitab : Amsal 18:21
“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”
Introduction
Setiap hari manusia hidup di tengah ribuan kata. Ada kata-kata yang didengar dari orang lain, ada yang diucapkan kepada sesama, dan ada pula yang terus berputar di dalam pikiran sendiri. Banyak orang menganggap perkataan hanyalah rangkaian kalimat biasa yang tidak memiliki dampak besar. Padahal, firman Tuhan menunjukkan bahwa perkataan memiliki kuasa yang luar biasa. Apa yang diucapkan hari ini dapat membentuk cara berpikir, memengaruhi hubungan, bahkan menentukan arah kehidupan seseorang di masa depan.
Sebagai wanita, kemampuan berkomunikasi adalah anugerah yang Tuhan berikan. Namun dibalik anugerah itu terdapat tanggung jawab untuk menggunakan setiap perkataan dengan bijaksana. Kata-kata yang keluar dari mulut dapat menjadi alat yang membangun, menguatkan, dan memberkati. Sebaliknya, perkataan negatif dapat menjadi pencuri kelimpahan yang perlahan merusak hubungan, menghancurkan harapan, dan melemahkan iman. Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk menjaga perkataannya agar menjadi saluran kasih karunia bagi orang lain.
1. Perkataan Melahirkan Realitas (Amsal 18:21)
Amsal 18:21 menyatakan bahwa hidup dan mati dikuasai lidah, dan siapa yang suka menggemakannya akan memakan buahnya. Firman Tuhan mengajarkan bahwa setiap perkataan yang terus-menerus diucapkan akan menghasilkan dampak dalam kehidupan. Kata-kata bukan hanya suara yang lewat begitu saja, tetapi benih yang ditaburkan ke dalam hati, pikiran, dan lingkungan di sekitar kita. Apa yang ditabur melalui perkataan pada akhirnya akan menghasilkan buah yang sesuai. Karena itu, perkataan yang dipenuhi iman akan melahirkan pengharapan, sedangkan perkataan yang dipenuhi keluhan, kritik, dan sikap negatif dapat menghasilkan kerusakan yang tidak disadari.Prinsip ini terlihat dalam kisah Miryam dan Harun ketika mereka berbicara negatif tentang Musa. Mereka tidak hanya mengomentari keputusan Musa menikahi perempuan Kush, tetapi juga mulai mempertanyakan otoritas yang Tuhan berikan kepadanya. Apa yang awalnya hanya berupa perkataan ternyata mencerminkan sikap hati yang dipenuhi rasa iri dan ketidakpuasan. Tuhan mendengar perkataan tersebut dan menegur mereka secara langsung.
Akibatnya, Miryam mengalami hukuman kusta sebagai konsekuensi dari sikap yang telah berkembang melalui perkataannya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa perkataan negatif tidak pernah berhenti sebagai ucapan semata. Ketika dibiarkan, perkataan itu dapat memengaruhi cara pandang, merusak hubungan, dan mendatangkan akibat yang serius. Sebaliknya, ketika seseorang memilih menggunakan kata-kata yang penuh kasih, hormat, dan membangun, ia sedang menaburkan benih yang akan menghasilkan kehidupan dan berkat bagi dirinya maupun orang lain.
2. Perkataan Menunjukkan Isi Hati (Matius 12:34)
Yesus berkata bahwa apa yang diucapkan mulut meluap dari hati. Dengan kata lain, perkataan negatif sering kali bukanlah akar masalah, melainkan gejala dari sesuatu yang sedang terjadi di dalam hati seseorang. Kepahitan, kekecewaan, iri hati, luka masa lalu, dan kurangnya kepercayaan kepada Tuhan dapat muncul dalam bentuk perkataan yang menyakitkan. Karena itu, perubahan yang sejati tidak dimulai dari mengontrol lidah semata, tetapi dari membereskan hati di hadapan Tuhan.
Orang yang terluka cenderung melukai orang lain. Sebaliknya, orang yang mengalami pemulihan akan menjadi sumber berkat bagi sekitarnya. Itulah sebabnya firman Tuhan mengajarkan untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Ketika hati dipenuhi firman Tuhan, doa, dan ucapan syukur, maka perkataan yang keluar pun akan mencerminkan kasih dan damai sejahtera Kristus. Sebelum berbicara, setiap orang perlu bertanya kepada dirinya sendiri apakah perkataannya akan membangun atau justru memperkeruh keadaan.
3. Perkataan Negatif Jangan Dibalas (Amsal 15:1)
Perkataan negatif sering kali memancing reaksi yang sama. Ketika disakiti, manusia cenderung ingin membalas. Namun firman Tuhan mengajarkan bahwa jawaban yang lemahlembut meredakan kegeraman, sedangkan perkataan yang pedas membangkitkan amarah. Kedewasaan rohani terlihat bukan ketika seseorang mampu membalas dengan lebih keras, tetapi ketika ia mampu mengendalikan dirinya dan memutus rantai kejahatan yang sedang terjadi. Tidak membalas bukan berarti lemah, melainkan menunjukkan bahwa seseorang memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja. Ketika menghadapi hinaan, fitnah, atau perkataan yang menyakitkan, orang percaya dapat memilih untuk menyerahkannya kepada Tuhan.
Pembalasan adalah hak Tuhan, bukan hak manusia. Dengan tetap menjaga perkataan dan respons yang benar, seseorang sedang menunjukkan bahwa hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus. Sikap seperti inilah yang membawa damai sejahtera dan menjaga hati tetap bersih dihadapan Tuhan.
Cover
Kelimpahan hidup tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki seseorang, tetapi juga oleh apa yang keluar dari mulutnya. Perkataan yang positif, penuh iman, dan membangun akan menciptakan suasana yang membawa kehidupan. Sebaliknya, perkataan negatif dapat menjadi pencuri yang merampas sukacita, relasi, dan pertumbuhan rohani. Karena itu, marilah menggunakan setiap kata dengan bijaksana, menjaga hati tetap murni, serta memilih untuk memperkatakan firman Tuhan dalam setiap keadaan. Ketika perkataan dipenuhi iman dan ucapan syukur, hidup akan semakin mencerminkan kasih Kristus dan menjadi berkat bagi banyak orang.