Bacaan Alkitab : Bilangan 13:25-33; 14:1-10
Ayat Renungan : Bilangan 14:9
– Hanya, janganlah memberontak kepada Tuhan, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang Tuhan menyertai kita; janganlah takut kepada mereka. –
INTRODUCTION
Banyak orang tidak sedang bergumul dengan masalah yang terjadi hari ini, melainkan dengan berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi esok hari. Pikiran dipenuhi pertanyaan tentang kesehatan, pekerjaan, ekonomi, keluarga, dan berbagai hal yang masih berada di depan. Akibatnya, energi habis untuk memikirkan sesuatu yang belum terjadi, sementara berkat Tuhan yang tersedia hari ini tidak lagi dinikmati dengan penuh sukacita.
Bangsa Israel pernah berada dalam situasi yang serupa. Mereka sudah berada di ambang Tanah Perjanjian yang dijanjikan Tuhan. Secara geografis mereka sudah sangat dekat dengan tujuan, tetapi secara mental mereka masih sangat jauh. Ketika dua belas pengintai kembali dari pengintaian, mereka melihat negeri yang sama, kota yang sama, dan tantangan yang sama. Namun hasil yang muncul berbeda. Sebagian melihat kesempatan yang Tuhan sediakan, sementara yang lain hanya melihat ancaman yang menakutkan. Dari peristiwa inilah terlihat bahwa sering kali musuh terbesar bukanlah keadaan di depan kita, melainkan persepsi yang salah di dalam diri kita.
3 JENIS KELIMPAHAN YANG DICURI OLEH KETAKUTAN MASA DEPAN
(Bilangan 13:25-33; 14:1-10)
1. Melihat Masalah Menjadi Berat (Bilangan 13:31-33)
Ketakutan akan masa depan membuat masalah terlihat jauh lebih besar daripada yang sebenarnya. Sepuluh pengintai yang kembali dari Tanah Perjanjian mulai berfokus pada raksasa-raksasa yang mereka lihat, kota-kota yang berkubu kuat, serta berbagai ancaman yang ada di depan mereka. Mereka bahkan menggambarkan diri mereka seperti belalang di hadapan para penduduk negeri itu. Padahal Tuhan yang sama yang membelah Laut Teberau dan melepaskan mereka dari Mesir masih menyertai perjalanan mereka.Ketika ketakutan menguasai pikiran, cara pandang seseorang akan berubah. Fokus tidak lagi tertuju kepada kebesaran Tuhan, tetapi kepada besarnya masalah. Apa yang sebenarnya masih mungkin dihadapi mulai terlihat mustahil. Apa yang sebenarnya masih bisa dikerjakan mulai terasa terlalu berat. Ketakutan masa depan menjadikan masalah lebih besar daripada Tuhan. Karena itu, orang percaya perlu belajar melihat setiap persoalan dari sudut pandang iman, bukan dari sudut pandang ketakutan.
2. Melihat Langkah Menjadi Berat (Bilangan 14:1-4)
Ketakutan bukan hanya mengubah cara melihat masalah, tetapi juga memengaruhi keberanian untuk melangkah. Setelah mendengar laporan sepuluh pengintai, bangsa Israel mulai menangis, bersungut-sungut, dan bahkan ingin kembali ke Mesir. Mereka lebih memilih kembali kepada masa lalu daripada melangkah menuju masa depan yang telah Tuhan sediakan.
Inilah yang sering terjadi ketika seseorang dikuasai ketakutan. Langkah yang seharusnya diambil menjadi tertunda. Keputusan yang seharusnya dibuat menjadi dihindari. Kesempatan yang seharusnya dimanfaatkan akhirnya dilewatkan. Ketakutan membuat orang mundur, sedangkan iman membuat orang berani melangkah. Untuk memasuki rencana besar Tuhan dibutuhkan keberanian untuk mengambil langkah iman, meskipun belum melihat seluruh gambaran di depan dengan jelas.
3. Melihat Masa Depan Menjadi Berat (Bilangan 14:6-9)
Berbeda dengan sepuluh pengintai lainnya, Yosua dan Kaleb melihat masa depan dari perspektif yang berbeda. Mereka tidak menyangkal adanya raksasa, kota berkubu, atau berbagai tantangan yang menanti. Namun mereka memilih mempercayai bahwa Tuhan yang memanggil mereka juga akan menyertai mereka memasuki Tanah Perjanjian.
Iman bukan berarti menolak kenyataan atau berpura-pura bahwa masalah tidak ada. Iman justru melihat kenyataan dengan keyakinan bahwa Tuhan lebih besar daripada kenyataan tersebut. Ketika bangsa Israel hanya melihat ancaman, Yosua dan Kaleb melihat janji Tuhan.
Ketika banyak orang melihat hambatan, mereka melihat kesempatan untuk mengalami pertolongan Tuhan. Masa depan yang terlihat menakutkan bagi orang yang hidup dalamketakutan dapat menjadi masa depan yang penuh pengharapan bagi orang yang hidup dalam iman.
PENUTUPAN
Ketakutan masa depan sering kali membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk menikmati apa yang telah Tuhan sediakan. Padahal Tuhan tidak pernah memanggil umat-Nya untuk berjalan sendirian menghadapi hari esok. Sama seperti Tuhan menyertai bangsa Israel dalam perjalanan mereka, demikian juga Tuhan tetap memegang kehidupan umat-Nya hari ini. Masa depan memang belum kita kunjungi, tetapi Tuhan sudah ada di sana. Karena itu, jangan biarkan ketakutan mengendalikan langkah kita. Kelimpahan tidak bertumbuh di tanah ketakutan, melainkan di tanah iman yang percaya bahwa Tuhan selalu memegang hari esok.