Bacaan Alkitab : Roma 10:17; Ibrani 11:8; Ibrani 10:35-36

Ayat Renungan : Ibrani 10:36

-Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.-

INTRODUCTION

Perjalanan menuju kelimpahan tidak berhenti ketika seseorang telah menerima sesuatu dari Tuhan. Kesetiaan membuat kita tetap ada, hikmat membuat kita mengetahui apa yang benar, integritas membuat kita tetap lurus, dan disiplin membuat kita melakukan yang benar secara konsisten. Selanjutnya, iman membuat kita berani melangkah kepada apa yang Tuhan sediakan di depan. Iman membawa kita keluar dari zona nyaman menuju kehidupan yang semakin bergantung kepada Tuhan. Namun, iman bukan tindakan nekat, sekadar berpikir positif, menyangkal realitas, atau memaksa Tuhan mengikuti keinginan kita. Iman Alkitabiah adalah percaya kepada Allah dan bertindak berdasarkan Firman-Nya.

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius, tetapi religiusitas tidak otomatis sama dengan iman yang Alkitabiah. Seseorang dapat rajin berdoa dan beribadah, tetapi kehidupan iman juga perlu terlihat melalui kepercayaan dan ketaatan kepada Tuhan. Sering kali manusia ingin melihat terlebih dahulu baru percaya, sedangkan iman mengajarkan kita untuk percaya, taat, lalu melihat. Abraham harus pergi sebelum mengetahui seluruh perjalanannya, bangsa Israel harus melangkah menuju Sungai Yordan, dan Petrus harus kembali menebarkan jala. Iman menolong kita untuk tidak mengandalkan lengkapnya peta perjalanan, tetapi mengandalkan Tuhan yang memimpin setiap langkah.

3 JENIS IMAN YANG MENOPANG KELIMPAHAN

1. Iman yang Mendengar (Roma 10:17)

Iman yang benar memerlukan dasar yang kuat. Roma 10:17 berkata, “Jadi, iman yang timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Karena itu, iman Kristen tidak dibangun di atas perasaan, rumor, keinginan pribadi, atau prediksi manusia. Perasaan dapat berubah-ubah, rumor belum tentu benar, keinginan kita belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan, dan prediksi manusia memiliki keterbatasan. Iman memiliki pijakan yang berbeda, yaitu Firman Tuhan. Ada perbedaan antara berkata, “saya ingin ini terjadi,” dengan memiliki keyakinan karena mengetahui apa yang Firman Tuhan katakan. Iman bukan sekadar menginginkan sesuatu terjadi, tetapi memercayai Tuhan berdasarkan Firman-Nya.

Abraham menjadi salah satu contoh iman yang mendengar. Ketika Tuhan memanggilnya dalam Kejadian 12 untuk meninggalkan negerinya menuju negeri yang akan Tuhan tunjukkan, Abraham tidak memiliki seluruh detail perjalanan di hadapannya. Ia tidakmengetahui dengan lengkap ke mana Tuhan akan membawanya, tetapi ia memiliki Firman Tuhan sebagai dasar untuk percaya. Hal ini menunjukkan bahwa iman tidak selalu membutuhkan seluruh jawaban sebelum percaya. Satu Firman Tuhan lebih cukup daripada seribu jaminan manusia. Ketika Tuhan telah berfirman, kita memiliki dasar untuk memercayai-Nya sekalipun belum melihat keseluruhan perjalanan di depan.

Karena itu, ketika menghadapi persoalan keluarga, pekerjaan, bisnis, pasangan hidup, pelayanan, kesehatan, maupun masa depan, jangan pertama-tama bertanya, “Apa kata perasaan saya?” tetapi belajarlah bertanya, “Apa kata Firman Tuhan?” Iman perlu terus dipelihara dengan membaca, mendengar, dan merenungkan Firman Tuhan. Apa yang terus-menerus kita dengarkan akan memengaruhi apa yang bertumbuh di dalam diri kita. Jika kita terus mendengarkan ketakutan, ketakutan akan semakin besar. Sebaliknya ketika Firman Tuhan semakin memenuhi kehidupan kita, iman pun semakin bertumbuh. Kalau iman mau bertumbuh, Firman harus bertambah di dalam kita. Sebelum iman melangkah, iman harus mendengar.

2. Iman yang Melangkah (Ibrani 11:8)

Iman yang telah mendengar Firman Tuhan perlu diwujudkan melalui ketaatan dan tindakan. Ibrani 11:8 berkata, “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tuju.” Abraham bukan hanya berkata bahwa ia percaya kepada Tuhan. Setelah mendengar panggilan Tuhan, ia taat dan benar-benar berangkat, sekalipun belum mengetahui seluruh perjalanan yang ada di depannya. Inilah pola iman yang nyata: iman, taat, lalu berangkat. Yakobus 2:17 juga menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati. Artinya, iman yang hidup akan menghasilkan tindakan.

Prinsip ini dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dapat percaya bahwa olahraga baik bagi kesehatan, tetapi tubuhnya tidak akan mengalami perubahan apabila ia tidak pernah mulai berolahraga. Seseorang juga dapat mengetahui bahwa menabung itu penting, tetapi kondisi keuangannya tidak akan berubah apabila setiap pendapatan selalu dihabiskan. Demikian juga dengan iman. Keyakinan perlu diwujudkan melalui langkah yang nyata. Iman bukan sekadar memperkatakan apa yang kita percaya, tetapi berani mengambil langkah berdasarkan apa yang kita percaya. Karena itu, mengetahui Firman Tuhan saja tidak cukup apabila kita tidak bersedia menaatinya dan melakukan bagian yang Tuhan percayakan kepada kita. Dalam kaitannya dengan kelimpahan, iman juga tidak menggantikan tanggung jawab.

Kita dapat berdoa, “Tuhan, berkati usaha saya,” tetapi kita tetap perlu belajar, bekerja, mengelola dengan baik, mengambil keputusan, melayani konsumen, dan terus memperbaiki kualitas. Beriman bukan berarti melangkah secara sembarangan tanpa perencanaan dan pertimbangan, tetapi berani menjalankan tanggung jawab setelah memiliki dasar yang benar dari Tuhan. Iman tidak menggantikan tanggung jawab, tetapi memberikan keberanian untukmenjalankan tanggung jawab. Iman tidak menunggu semuanya menjadi jelas. Iman melangkah karena pesan Tuhan jelas.

3. Iman yang Menanti (Ibrani 10:35-36)

Iman bukan hanya diperlukan ketika kita mulai melangkah, tetapi juga ketika kita harus menanti. Ibrani 10:35-36 berkata, “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” Ada kalanya kita sudah mendengar Firman Tuhan, sudah taat, dan sudah mengambil langkah yang benar, tetapi hasilnya belum terlihat. Pada saat seperti inilah iman diuji melalui ketekunan. Iman bukan hanya keberanian untuk memulai, tetapi juga keteguhan untuk tetap percaya selama menanti.

Tidak semua janji langsung menjadi penggenapan. Ada jarak antara janji dan penggenapan, dan di dalam jarak itulah kita belajar menanti waktu Tuhan. Abraham telah berangkat dalam ketaatan, tetapi tidak seluruh janji Tuhan langsung digenapi dalam waktu singkat. Bangsa Israel pun pernah menjadi tidak sabar ketika Musa berada di Gunung Sinai selama empat puluh hari hingga akhirnya mereka membuat anak lembu emas. Menanti bukan berarti berhenti percaya atau tidak melakukan apa-apa. Kita tetap setia melakukan bagian kita sambil memercayakan hasilnya kepada Tuhan. Iman tidak hanya percaya ketika Tuhan bekerja dengan cepat, tetapi juga tetap percaya ketika jawaban belum terlihat.

Karena itu, jangan menganggap penundaan sebagai penolakan. Ketika jawaban belum datang sekarang, bukan berarti Tuhan tidak menjawab. Bisa jadi jawabannya adalah “ya”, tetapi waktunya belum tiba. Iman mengajarkan kita untuk tidak memaksa Tuhan mengikuti jadwal kita, melainkan tetap percaya kepada waktu dan cara-Nya. Dari sinilah perjalanan iman menjadi lengkap: iman mendengar untuk memiliki dasar, iman melangkah karena percaya, dan iman menanti dengan tekun sampai Tuhan menggenapi kehendak-Nya pada waktu yang tepat.

PENUTUP

Iman yang menopang kelimpahan bukanlah keyakinan tanpa dasar, melainkan kehidupan yang terus percaya dan taat kepada Tuhan. Iman dimulai dengan mendengar Firman Tuhan, dilanjutkan dengan berani melangkah dalam ketaatan, dan dipelihara dengan tetap menanti ketika hasilnya belum terlihat. Kita mungkin tidak selalu mengetahui seluruh perjalanan yang ada di depan, tetapi kita dapat memercayai Tuhan yang mengetahui setiap langkah dan memegang masa depan kita.

Karena itu, jangan berhenti hanya karena belum melihat hasil yang diharapkan. Teruslah memenuhi hati dengan Firman-Nya, lakukan bagian yang Tuhan percayakan, dan tetaplah setia dalam proses menanti. Kita tidak perlu melihat seluruh jalan untuk berani melangkah. Ketika Firman Tuhan menjadi dasar, ketaatan menjadi langkah, dan ketekunanmenyertai penantian, iman akan membawa kita semakin jauh ke dalam rencana dan kelimpahan yang Tuhan sediakan.

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted