WANITA YANG BERKELIMPAHAN – Pdt. Rina Nahuway

Ibadah Wanita Bethel Indonesia Mawar Saron

Bacaan Alkitab : Amsal 9:10; Mazmur 111:10

Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”

“Permulaan hikmat ialah takut akan TUHAN; semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian bagi-Nya tetap untuk selamanya.”

Pendahuluan

Hidup berkelimpahan bukanlah sekadar memiliki harta yang banyak, melainkan hidup yang melebihi segala kebutuhan dasar manusia. Setiap orang memiliki kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan, tetapi kelimpahan sejati berbicara tentang penyertaan Tuhan yang melampaui semua itu. Tuhan rindu umat-Nya—termasuk para wanita—hidup dalam kelimpahan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan: rohani, jasmani, dan masa depan keturunan.

Firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa kunci utama hidup berkelimpahan adalah hikmat. Tanpa hikmat, kelimpahan materi sekalipun dapat lenyap. Harta warisan yang besar tidak akan bertahan jika tidak disertai dengan takut akan Tuhan. Sebaliknya, orang yang mengandalkan Tuhan akan mengalami pemeliharaan ilahi yang jauh lebih berharga daripada harta duniawi.

Takut akan Tuhan: Dasar Hidup Berkelimpahan

Mazmur 111:10 menegaskan bahwa permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam ketakutan, melainkan sikap hormat, taat, dan menjauhi kejahatan serta dosa. Orang yang takut akan Tuhan akan senantiasa menjaga hidupnya: menjaga perkataan, perbuatan, pikiran, bahkan apa yang dilihat dan didengar.

Sikap takut akan Tuhan mendorong seseorang untuk tekun berdoa, mencintai firman Tuhan, dan hidup benar di hadapan-Nya. Firman Tuhan menjanjikan bahwa orang benar tidak akan ditinggalkan, bahkan anak cucunya tidak akan kekurangan (Mazmur 37:25). Kelimpahan yang Tuhan berikan bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi berikutnya.

Berakal Budi yang Baik: Menerapkan Hikmat Allah

Selain takut akan Tuhan, firman Tuhan menekankan pentingnya akal budi yang baik. Akal budi yang baik adalah kemampuan untuk menerapkan hikmat Allah dalam kehidupan sehari-hari. Hikmat itu bukan hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk dijalankan dengan setia.

Akal budi yang baik tercermin dalam kerja keras, tanggung jawab, dan kesetiaan. Alkitab mengajarkan bahwa orang yang rajin akan diberkati, sementara kemalasan membawa kekurangan. Orang yang hidup dengan akal budi yang baik tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain, tetapi mempersiapkan masa depan dengan bijaksana, sehingga tidak menjadi beban bagi anak-anaknya kelak.

Amsal 13:22 menyatakan bahwa orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya, sedangkan kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar. Ini menegaskan bahwa kualitas hidup rohani jauh lebih menentukan daripada jumlah harta yang dikumpulkan.

Hidup Setia dan Berintegritas

Akal budi yang baik juga terlihat dalam kesetiaan dan integritas. Orang yang setia tidak berkhianat, baik dalam keluarga, pelayanan, pekerjaan, maupun relasi sosial. Kesetiaan dalam hal kecil menepati janji, jujur, dan tidak menipu, akan mendatangkan karunia Tuhan.

Firman Tuhan mengingatkan bahwa siapa yang meremehkan firman akan menanggung akibatnya, tetapi siapa yang taat akan menerima balasan (Amsal 13:13). Ketaatan kepada firman Tuhan membuka pintu berkat yang berkelanjutan.

Puji-Pujian yang Tidak Pernah Berhenti

Mazmur 111:10 juga menutup dengan penegasan bahwa puji-pujian bagi Tuhan tetap untuk selamanya. Wanita yang hidup berkelimpahan adalah wanita yang tetap memuji Tuhan dalam segala keadaan, baik dalam kelimpahan maupun dalam pergumulan.

Sikap bersyukur dan memuji Tuhan menjaga hati tetap tenang, pikiran tetap jernih, dan tubuh tetap sehat. Alkitab menyatakan bahwa hati yang gembira adalah obat yang manjur. Ketika seseorang memuji Tuhan di tengah tantangan, ia sedang menyatakan iman bahwa Tuhan berkuasa atas segala perkara.

Meneladani Sikap Maria

Teladan iman yang indah terlihat dalam diri Maria, ibu Yesus. Ketika menerima panggilan Tuhan, Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Sikap penyerahan diri inilah yang Tuhan kehendaki dari setiap orang percaya. Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Tuhan dan hidup sesuai kehendak-Nya, maka Tuhan sendiri yang akan mencukupkan segala kebutuhannya.

Penutup

Hidup berkelimpahan adalah janji Tuhan bagi mereka yang takut akan Dia, berakal budi yang baik, dan senantiasa menaikkan puji-pujian kepada-Nya. Kelimpahan itu bukan hanya dinikmati secara pribadi, tetapi mengalir kepada anak-anak, cucu-cucu, bahkan sampai beribu-ribu keturunan.

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments