Ibadah Wanita Bethel Indonesia Mawar Saron – Pdp. Aan Tanjung, S.E.
Bacaan Alkitab : Amsal 13:20
“Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”
Pendahuluan
“Siapa yang bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.” Demikian firman Tuhan dalam Amsal 13:20 yang menjadi dasar perenungan kali ini. Setiap orang tidak dapat hidup tanpa relasi. Sejak lahir, manusia telah berada dalam hubungan keluarga, kemudian bertumbuh membangun relasi dengan teman, pasangan, rekan kerja, hingga komunitas. Namun, tidak semua relasi membawa kehidupan kepada arah yang benar. Ada hubungan yang justru perlahan membentuk karakter yang salah, memengaruhi keputusan yang keliru, bahkan menjauhkan seseorang dari rencana Tuhan. Karena itu, Tuhan mengajak kita untuk membangun relasi yang sehat agar kelimpahan yang telah Tuhan sediakan tidak dicuri oleh hubungan yang salah.
Tiga Alasan Wanita Mudah Terjebak dalam Relasi yang Salah
1. Wanita Memiliki Kerinduan Yang Besar Untuk Dicintai dan Diterima
Kerinduan untuk dikasihi, diperhatikan, dan diterima merupakan kebutuhan yang Tuhan tanamkan dalam diri setiap orang. Kebutuhan ini pada dasarnya baik, tetapi akan menjadi pintu masuk bagi relasi yang tidak sehat apabila dipenuhi dari sumber yang salah. Keinginan untuk terus memperoleh penerimaan sering kali membuat seseorang bertahan dalam hubungan yang justru melukai dirinya.
Perempuan Samaria menjadi gambaran nyata akan hal tersebut. Ia telah menjalani beberapa hubungan, tetapi tetap merasa haus akan kasih yang sejati. Baru ketika berjumpa dengan Tuhan Yesus, ia menemukan kepuasan yang tidak dapat diberikan oleh siapa pun. Kasih manusia terbatas, tetapi kasih Tuhan Yesus sanggup memenuhi kekosongan hati yang terdalam. Ketika identitas dan nilai diri dibangun di dalam Tuhan, seseorang tidak lagimencari penerimaan dari setiap orang yang ditemuinya, melainkan hidup dalam kepastian bahwa dirinya telah dikasihi oleh Tuhan.
2. Wanita Mudah Dipengaruhi oleh Emosi daripada Kebenaran
Emosi adalah anugrah dari Tuhan, tetapi emosi tidak boleh mengambil alih posisi firman Tuhan sebagai penuntun kehidupan. Ketika perasaan lebih diutamakan daripada kebenaran, seseorang akan lebih mudah mengambil keputusan berdasarkan apa yang tampak menyenangkan, bukan berdasarkan kehendak Tuhan. Kisah Hawa menunjukkan bagaimana emosi dapat mengalahkan ketaatan. Ia mengetahui perintah Tuhan, tetapi ketika melihat buah itu menarik dan menginginkannya, ia mengabaikan firman yang telah diterimanya. Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat tergoda untuk mempertahankan relasi yang salah hanya karena mengikuti perasaan. Tuhan memanggil setiap orang percaya untuk terus membangun kehidupan rohani sehingga hikmat-Nya menjadi dasar dalam setiap keputusan, bukan sekadar dorongan emosi sesaat.
3. Wanita Sulit Melepaskan Hubungan yang Tidak Sehat Karena Ikatan Hati
Tidak sedikit orang tetap bertahan dalam hubungan yang melukai karena berharap orang lain akan berubah, takut merasa sendirian, atau merasa sudah terlalu banyak berkorban. Ikatan hati sering kali membuat seseorang tetap tinggal dalam relasi yang jelas-jelas merusak kehidupannya. Simson menjadi contoh bagaimana seseorang dapat mengetahui bahaya yang ada di depan mata, tetapi tetap mempertahankan hubungan tersebut karena telah terikat secara emosional. Relasi yang tidak sehat akan terus menguras kekuatan apabila tidak disikapi dengan keberanian untuk melepaskannya. Tuhan tidak menghendaki anak-anak-Nya hidup dalam hubungan yang terus membawa luka, melainkan menikmati relasi yang membangun iman dan membawa pertumbuhan rohani.
Tiga Kelimpahan yang Dicuri oleh Relasi yang Salah
1. Damai Sejahtera
Relasi yang tidak sehat dipenuhi oleh kecemasan, konflik, manipulasi, dan ketidakpastian. Akibatnya hati kehilangan ketenangan, pikiran terus terbeban, dan sukacita perlahan memudar. Padahal Tuhan Yesus menghendaki damai sejahtera-Nya memelihara hati dan pikiran setiap anak-Nya. Ketika seseorang terus mempertahankan hubungan yang salah, ia akan semakin sulit menikmati hidup, karena energi dan pikirannya habis untuk menghadapi pergumulan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Damai sejahtera merupakan salah satu kelimpahan yang Tuhan berikan, sehingga setiap orang percaya perlu menjaga relasi yang membawa ketenangan, bukan kegelisahan.
2. Tujuan dan Panggilan Hidup
Relasi yang salah dapat mengalihkan fokus seseorang dari tujuan Tuhan. Waktu, tenaga, perhatian, bahkan potensi yang Tuhan percayakan akhirnya habis untuk mempertahankan hubungan yang tidak sesuai denga kehendak-Nya. Tanpa disadari, pelayanan menjadi terabaikan dan keputusan-keputusan hidup mulai menajuh dari firman Tuhan. Firman Tuhan dalam Efesus 2:10 mengingatkan bahwa setiap orang percaya diciptakan untuk melakukan pekerjaan yang baik yang telah dipersiapkan Tuhan sebelumnya. Karena itu, relasi yang dibangun seharusnya mendukung seseorang semakin bertumbuh dalam panggilan hidupnya, bukan justru menghalanginya.
3. Berkat dan Masa Depan
Pilihan relasi yang salah sering kali membawa seseorang kepada keputusan-keputusan yang salah pula. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada kehidupan rohani, tetapi juga keluarga, pekerjaan, pelayanan, bahkan masa depan generasi berikutnya. Tuhan sebenarnya telah menyediakan rancangan damai sejahtera dan hari depan yang penuh harapan bagi umat-Nya, Tetapi keputusan yang tidak bijaksana dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk menikmati rencana tersebut. Karena itu, relasi bukan sekadar soal kenyamanan hari ini, tetapi juga menentukan arah kehidupan di masa depan. Hubungan yang sehat akan membawa seseorang semakin dekat kepada Tuhan dan semakin siap menerima kelimpahan yang telah Ia sediakan.
Penutup
Firman Tuhan mengajak setiap kita untuk berani mengevaluasi relasi yang dimiliki. Apakah hubungan tersebut membawa semakin dekat kepada Tuhan, menumbuhkan karakter Kristus, dan membangun iman, atau justru sebaliknya? Tidak semua hubungan harus dipertahankan apabila terus menjauhkan seseorang dari kehendak Tuhan. Pada akhirnya, Tuhan Yesus tidak hanya memanggil umat-Nya untuk memiliki banyak relasi, tetapi memiliki relasi yang membawa kehidupan. Ketika setiap hubungan dibangun di atas dasar firman Tuhan, damai sejahtera akan terpelihara, tujuan hidup tetap terarah, dan masa depan dapat dijalani sesuai dengan rancangan-Nya. Biarlah melalui setiap relasi yang kita bangun, nama Tuhan Yesus semakin dipermuliakan, karakter Kristus semakin nyata dalam kehidupan kita, dan semakin banyak orang mengalami kasih serta keselamatan di dalam Tuhan Yesus.