Ibadah Wanita Bethel Indonesia Mawar Saron | Pdp. Herlina Saragih

Bacaan Alkitab : Galatia 6:9

– Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. –

Pendahuluan

Tidak semua hal yang diharpakan dapat terwujud dalam waktu singkat. Ada doa yang telah dianikkan selama bertahun-tahun, pergumulan keluarga yang belum menemukan jalan keluar, serta impian yang masih harus melewati berbagai tantangan. Dalam keadaan seperti itu, seseorang dapat merasa lelah, kehilangan semangat, bahkan mulai mempertanyakan kapan pertolongan Tuhan akan datang. Namun, proses kehidupan tidak selalu berarti bahwa Tuhan tidak bekerja. Ada kalanya seseorang justru sedang dibentuk untuk memiliki iman yang semakin kuat, hati yang semakin sabar, dan kesetiaan yang tidak mudah goyah.

Ketekunan merupakan sikap pantang menyerah dan kesediaan untuk terus melakukan yang benar meskipun menghadapi kesulitan. Seperti sebuah pohon yang membutuhkan waktu, air, dan perawatan sebelum menghasilkan buah, kehidupan rohani juga memerlukan proses pertumbuhan yang berkelanjutan. Abraham dan Sara harus menantikan penggenapan janji Tuhan selama sekitar 25 tahun sebelum Ishak lahir. Penantian tersebut memperlihatkan bahwa iman perlu terus dipelihara ketika keadaan belum sesuai dengan harapn. Ketekunan menjadi salah satu penopang penting bagi wanita Kristen agar tetap kokoh dalam keluarga, pelayanan, dan berbagai tanggung jawab kehidupan.

3 Hal Penting untuk Membangun Ketekunan dan Kelimpahan

  1. Tekun dalam Mengasihi Tuhan (Matius 22:37; Ulangan 6:5)

    Ketekunan dalam kehidupan rohani dimulai dari kasih kepada Tuhan. Dalam Matius 22:37, Yesus mengajarkan agar manusia mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi. Perintah yang sejalan juga terdapat dalam Ulangan 6:5, yang menekankan kasih kepada Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa kasih kepada Allah menuntut kesungguhan dan keterlibatan seluruh kehidupan. Mengasihi Tuhan tidak cukup hanya melalui perkataan atau pengakuan iman, tetapi perlu terlihat melalui kesetiaan untuk membangun hubungan dengan-Nya. Ketika seseorang benar-benar mengasihi Tuhan, ia akan berusaha menjaga kedekatan tersebut, baik dalam keadaan menyenangkan maupun ketika menghadapi kesulitan.

    Hubungan dengan Tuhan dapat digambarkan melalui hubungan dalam keluarga. Seorang istri yang mengasihi suaminya akan berusaha menjaga komunikasi, memberikan perhatian, dan memelihara hubungan tersebut dalam berbagai keadaan. Demikian pula, kasih kepada Tuhanperlu dirawat dengan kesungguhan yang tidak bergantung pada situasi. Ketika kehidupan berjalan baik, seseorang mungkin lebih mudah mengucap syukur dan menyatakan kasihnya kepada Tuhan. Namun, ketika menghadapi masalah keuangan, pergumulan rumah tangga, atau penantian yang panjang, kasih tersebut diuji melalui kesediaan untuk percaya dan mendekat kepada-Nya. Kasih yang tekun tidak berubah hanya karena keadaan sedang sulit. Sebaliknya, hubungan yang terus dipelihara dengan Tuhan akan menjadi sumber kekuatan untuk menjalani setiap proses kehidupan.

    Ketekunan mengasihi Tuhan juga mengajak setiap wanita untuk memeriksa kualitas hubungan pribadinya dengan Allah. kesibukan mengurus keluarga, pekerjaan, dan pelayanan terkadang membuat seseorang menjalani aktivitas rohani sebagai rutinitas tanpa memperhatikan keadaan hatinya. Karena itu, penting unutk menyediakan waktu berdoa, merenungkan firman Tuhan, dan mengevaluasi apakah keputusan sehari-hari telah mencerminkan kasih kepada-Nya. Mengasihi Tuhan dengan segenap hati berarti memberikan tempat yang utama bagi-Nya dalam kehidupan, bukan hanya mencari-Nya ketika membutuhkan pertolongan. Ketika kasih kepada Tuhan terus dipelihara, ketekunan tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang memberatkan, melainkan menjadi ungkapan kesetiaan kepada Allah yang senantiasa mengasihi umat-Nya.

  2. Tekun Beribadah kepada Tuhan (Ulangan 11:13; Ibrani 10:25; Mazmur 122:1)

    Kasih kepada Tuhan akan menumbuhkan kerinduan untuk datang beribadah kepada-Nya. Ulangan 11:13 menghubungkan kesungguhan mengasihi Tuhan dengan kesediaan untuk beribadah kepada-Nya dengan segenap hati dan jiwa. Hal ini memperlihatkan bahwa ibadah merupakan salah satu wujud nyata dari hubungan yang terus dipelihara dengan Allah. Di tengah berbagai tanggung jawab, menyediakan waktu untuk beribadah memang tidak selalu mudah. Seorang ibu mungkin harus mengatur kebutuhan keluarga, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, atau menyesuaikan jadwal pekerjaan sebelum dapat mengikuti persekutuan. Namun, kerinduan kepada Tuhan mendorongnya untuk tetap mengusahakan kesempatan beribadah dengan sungguh-sungguh. Ketekunan beribadah bukan hanya tentang kehadiran secara fisik, tetapi juga tentang kesiapan hati untuk berjumpa dengan Tuhan dan menerima firman-Nya.

    Ibrani 10:25 mengingatkan orang percaya agar tidak menjauhkan diri dari pertemuan ibadah, melainkan saling menasihati dan menguatkan. Melalui persekutuan, seseorang dapat memperoleh dukungan rohani, membangun iman, dan menemukan kekuatan ketika menghadapi pergumulan. Namun, ketekunan beribadah perlu berjalan seimbang dengan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Kesungguhan mengikuti kegiatan gereja tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan keluarga, pekerjaan, atau kewajiban lainnya. Seorang wanita Kristen juga dipanggil untuk menjadi teladan melalui sikap yang bertanggung jawab di rumah maupun di tempat kerja. Oleh karena itu, diperlukan hikmat untuk mengatur waktu dan menentukan prioritas agar kehidupan ibadah serta tanggung jawab pribadi dapat dijalankan dengan baik.

    Ibadah yang dilakukan dengan tekun juga perlu disertai motivasi yang benar. Mazmur 122:1 menggambarkan sukacita Daud ketika diajak pergi ke rumah Tuhan. Sukacita tersebut mengingatkan bahwa alasan utama seseorang beribadah adalah kerinduannya kepada Allah, bukan karena mengharapkan hadiah, bantuan, atau keuntungan tertentu. Kesungguhan beribadah dapat diwujudkan melalui persiapan hati, doa, pujian, serta persembahan yang diberikan dengan rasa syukur. Selain itu, kehidupan doa pribadi perlu terus dipelihara karena doa menjadi sarana untuk menyampaikan pergumulan, harapan, dan ucapan syukur kepada Tuhan. Hana memberikan teladan tentang ketekunan berdoa ketika ia menghadapi kesedihan karena belum memiliki anak. Dalam 1 Samuel 1:10–20, Hana mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Meskipun keadaannya belum langsung berubah, ia tetap membawa pergumulannya kepada Allah. Ketekunan tersebut mengajarkan bahwa doa merupakan ungkapan iman dan penyerahan diri kepada Tuhan, yang mengetahui setiap kebutuhan serta bekerja menurut waktu dan kehendak-Nya.

  3. Buah dari Ketekunan (Galatia 6:9; Ulangan 11:14)

    Ketekunan yang terus dipelihara akan membentuk kehidupan yang menghasilkan buah. Galatia 6:9 mengingatkan orang percaya agar tidak jemu-jemu berbuat baik karena pada waktunya akan menuai apabila tidak menjadi lemah. Ayat ini memberikan dorongan untuk tetap melakukan kebaikan sekalipun hasilnya belum terlihat. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin telah berkali-kali menolong orang lain, tetapi tidak selalu menerima tanggapan yang menyenangkan. Ada kalanya pertolongan yang diberikan tidak dihargai, bahkan dibalas dengan sikap yang menyakitkan. Pengalaman seperti ini dapat membuat seseorang enggan kembali membantu. Namun, ketekunan mengajarkan bahwa kebaikan tidak seharusnya bergantung pada penghargaan manusia. Orang percaya dipanggil untuk terus menunjukkan kasih dan melakukan yang benar karena Allah sendiri telah terlebih dahulu menyatakan kebaikan-Nya.

    Buah dari ketekunan juga berkaitan dengan kesediaan untuk mempercayai waktu Tuhan. Dalam Ulangan 11:14, Allah menyampaikan janji tentang hujan awal dan hujan akhir yang diberikan pada waktunya sehingga umat-Nya dapat mengumpulkan hasil tanah. Gambaran ini menunjukkan pentingnya pemeliharaan Tuhan dalam proses pertumbuhan dan menghasilkan panen. Seorang petani tidak dapat memaksa tanaman berbuah sebelum waktunya, tetapi ia tetap harus menanam, merawat, dan menantikan hasilnya dengan sabar. Demikian pula, kehidupan manusia memiliki masa menabur, merawat, menanti, dan menuai. Ketika doa belum terjawab atau keadaan belum berubah, orang percaya diajak untuk tetap melakukan tanggung jawabnya dengan setia. Ketekunan bukan berarti seseorang tidak pernah merasa lelah, melainkan tetap memilih untuk percaya kepada Tuhan dan melangkah dalam ketaatan meskipun proses yang dijalani belum selesai.

    Kehidupan yang berbuah tidak hanya terlihat dari keberhasilan pribadi atau terpenuhinya kebutuhan jasmani, tetapi juga dari pengaruh baik yang diberikan kepada orang lain. Wanita yang tekun dalam iman, ibadah, doa, dan perbuatan baik dapat menjadi sumber kekuatan bagi keluarga serta lingkungan sekitarnya. Di tengah kesulitan, ia belajar menjaga perkataan dan sikap agar tidak mudah menyerah. Dalam pekerjaan, ia berusaha menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh. Dalam keluarga, ia terus membangun hubungan yang penuh kasih dan menjadi teladan bagi anak-anak maupun orang-orang terdekatnya. Seperti pohon yang tetap bertumbuh dan menghasilkan buah karena memperoleh sumber kehidupan yang cukup, wanita yang terus melekat kepada Tuhan akan dibentuk menjadi pribadi yang semakin kuat dan mampu membawa berkat. Dengan demikian, kelimpahan tidak hanya dinikmati untuk kepentingan sendiri, tetapi juga diwujudkan melalui kehidupan yang berguna bagi sesama.

Penutup

Kelimpahan sejati bukan berarti hidup tanpa pergumulan, melainkan tetap memiliki karakter yang benar dan setia kepada Tuhan dalam segala keadaan. Melalui kehidupan Elisabet, setiap wanita percaya diajak untuk menjaga integritas, baik dalam hubungan pribadi dengan Allah, ketika menghadapi persoalan, maupun melalui perkataan dan tindakan sehari-hari. Sebab, wanita yang berintegritas bukanlah wanita yang tidak pernah menghadapi pergumulan, melainkan wanita yang tetap memilih hidup benar dan setia kepada Tuhan di tengah segala keadaan. Dengan pertolongan Roh Kudus, kehidupan yang berintegritas akan menjadi berkat bagi keluarga dan sesama.

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted