Ibadah Wanita Bethel Indonesia Mawar Saron – Neeta R. Aildasani, S.E., M.Th.

Bacaan Alkitab : Filipi 2:1-11

“dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri” (Filipi 2:3)

Pendahuluan

Kerendahan hati merupakan salah satu karakter yang mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah diterapkan. Kita mungkin merasa sudah cukup sabar, tidak sombong, dan mampu mengampuni orang lain. Namun, ketika seseorang menyinggung perasaan kita atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita, berbagai kesalahan yang telah berlalu dapat kembali teringat dengan begitu jelas. Bahkan, pengorbanan yang selama ini kita lakukan dengan tulus terkadang berubah menjadi sesuatu yang kita perhitungkan ketika merasa tidak dihargai. Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa kerendahan hati bukan hanya tentang bagaimana seseorang terlihat di hadapan orang lain, tetapi juga tentang bagaimana ia mengelola hati, memandang dirinya sendiri, dan memperlakukan sesama.

Dalam Filipi 2:1-11, Rasul Paulus mengingatkan jemaat Filipi untuk hidup dalam kesatuan, tidak mencari kepentingan sendiri, dan meneladani kerendahan hati Yesus Kristus. Nasihat ini diberikan ketika jemaat menghadapi berbagai tekanan, penderitaan, serta persoalan yang timbul akibat keegoisan dan kesombongan. Pesan tersebut tetap relevan bagi kehidupan wanita masa kini, baik dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, maupun hubungan dengan sesama. Kerendahan hati bukanlah sikap merendahkan diri atau menganggap diri tidak berharga, melainkan kesediaan untuk tidak meninggikan diri di atas orang lain. Sebagai salah satu pilar kehidupan yang berkelimpahan, kerendahan hati memiliki tiga peranan penting yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

3 Alasan Kerendahan Hati Menjadi Pilar Kelimpahan (Filipi 2:1-11)

  1. Rendah hati membuat kita tidak egois (Filipi 2:1-4)

    Filipi 2:4 berkata, “Dan janganlah tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Melalui ayat ini, Rasul Paulus tidak melarang seseorang memperhatikan kebutuhan dirinya sendiri. Setiap orang tetap perlu menjaga kesehatan, memenuhi kebutuhan pribadi, beristirahat ketika lelah, dan memberikan perhatian kepada dirinya. Namun, firman Tuhan mengingatkan agar kehidupan kita tidak hanya berpusat pada kepentingan pribadi. Kerendahan hati mengajarkan kita untuk menyadari bahwa orang lain juga memiliki kebutuhan, tanggung jawab, pergumulan, dan perasaan yang perlu diperhatikan. Kepentingan kita memang penting, tetapi kepentingan orang lain juga tidak kalah pentingnya.

    Dalam kehidupan seorang wanita, pengorbanan sering kali menjadi bagian dari keseharian. Sejak berada dalam keluarga, seseorang mungkin telah terbiasa mengalah demi saudara atau orang tuanya. Ketika menikah, ia belajar menyesuaikan diri dengan pasangan dan keluarga yang baru. Setelah memiliki anak, semakin banyak waktu, tenaga, dan perhatian yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, pengorbanan yang terus dilakukan dapat menjadi sumber kekecewaan apabila hati mulai menuntut penghargaan atau balasan. Kita mungkin merasa sudah banyak mengalah, tetapi tidak pernah mendapatkan ucapan terima kasih yang sepadan. Tanpa disadari, berbagai pengalaman tersebut tersimpan dalam ingatan dan muncul kembali ketika terjadi persoalan. Akibatnya, perhatian yang semula diberikan kepada orang lain perlahan berubah menjadi tuntutan agar orang lain selalu memahami dan mengutamakan diri kita.

    Sikap tidak egois juga perlu diterapkan ketika berhadapan dengan orang yang tidak kita kenal. Dalam kesibukan sehari-hari, kita mungkin merasa bahwa urusan dan tanggung jawab pribadi merupakan hal yang paling mendesak. Ketika sedang terburu-buru untuk menjemput anak, menyelesaikan pekerjaan, atau mengurus kebutuhan rumah tangga, kita dapat kehilangan kesabaran terhadap orang lain. Padahal, orang yang berada di sekitar kita mungkin sedang menghadapi persoalan yang sama beratnya, bahkan lebih berat daripada persoalan kita. Karena itu, kerendahan hati menolong kita untuk tidak selalu menuntut pengertian, tetapi juga belajar memahami keadaan sesama. Tuhan tidak memberkati kita hanya agar kita memiliki lebih banyak hal untuk diri sendiri. Kelimpahan seharusnya memperbesar kemampuan kita untuk memberi, menolong, dan menjadi berkat bagi keluarga, gereja, serta lingkungan sekitar.

  2. Rendah Hati Menjadikan Kita Serupa Kristus (Filipi 2:5-8)

    Filipi 2:5 berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Ayat ini menunjukkan bahwa standar kerendahan hati orang percaya bukanlah manusia, melainkan Yesus Kristus sendiri. Ketika membandingkan diri dengan orang lain, kita selalu dapat menemukan seseorang yang dianggap memiliki sikap lebih buruk daripada kita. Kita mungkin merasa lebih sabar, lebih bijaksana, atau lebih mampu mengendalikan perkataan dibandingkan orang tertentu. Namun, perbandingan seperti itu dapat membuat kita merasa sudah cukup baik dan tidak lagi membutuhkan perubahan. Sebaliknya, ketika menjadikan Kristus sebagai teladan, kita akan terus menyadari bahwa masih ada bagian dari kehidupan yang perlu diperbaiki. Tujuan kerendahan hati bukanlah menjadi lebih baik daripada orang lain, melainkan menjadi semakin serupa dengan Kristus.

    Yesus memberikan teladan kerendahan hati yang sempurna. Meskipun berada dalam rupa Allah, Ia tidak mempertahankan kedudukan dan hak istimewa itu untuk kepentingan diri sendiri. Sebaliknya, Ia mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, menjadi manusia, dan taat sampai mati di kayu salib. Kerendahan hati Yesus tidak mengurangi siapa diri-Nya, tetapi justru memperlihatkan kasih dan ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa. Teladan ini mengingatkan kita bahwa semakin besar kepercayaan dan tanggung jawab yang diterima, semakin besar pula kesempatan untuk melayani. Jabatan, kemampuan, pengetahuan, maupun keberhasilan tidak seharusnya digunakan untuk menuntut penghormatan, melainkan untuk membawa kebaikan bagi orang lain.

    Meneladani Kristus juga berarti belajar mengendalikan keinginan untuk selalu dianggap benar, paling mengetahui segala sesuatu, atau selalu menjadi pusat perhatian. Kerendahan hati dapat terlihat melalui tindakan sederhana, seperti bersedia mendengarkan seseorang tanpa membandingkan pengalamannya dengan pengalaman kita, menahan perkataan yang dapat menyakiti orang lain, serta tidak menyebarkan informasi yang tidak membawa manfaat. Sikap ini juga diuji ketika keadaan tidak berjalan sesuai dengan rencana. Terkadang kita terus meminta Tuhan mengubah keadaan, pasangan, keluarga, atau persoalan yang sedang dihadapi. Namun, melalui keadaan yang belum berubah, Tuhan dapat sedang membentuk sikap dan hati kita agar semakin dewasa. Karena itu, setiap keputusan dalam kehidupan sehari-hari perlu diarahkan oleh pertanyaan, “Apa yang akan Yesus lakukan jika berada dalam keadaan saya?” Kerendahan hati yang sejati bukan hanya terlihat ketika kita beribadah atau melayani di hadapan banyak orang, tetapi juga melalui sikap, perkataan, dan keputusan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

  3. Rendah Hati Membuat Kita Ditinggikan Allah (Filipi 2:9-11)

    Filipi 2:9 menyatakan, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.” Ayat ini memperlihatkan bahwa setelah Yesus merendahkan diri dan taat sampai mati di kayu salib, Allah meninggikan Dia sehingga segala lutut bertelut dan segala lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa. Peninggian Kristus memiliki kedudukan yang istimewa dan menjadi teladan bagi orang percaya untuk hidup dalam ketaatan serta kerendahan hati. Kita tidak perlu menjadikan pengakuan manusia sebagai tujuan utama dalam melakukan sesuatu yang baik. Kerendahan hati mengajarkan kita untuk lebih mengutamakan kemuliaan Tuhan daripada pujian bagi diri sendiri.

    Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali ingin keberhasilan dan pengorbanannya diketahui serta dihargai oleh orang lain. Kita mungkin merasa senang ketika pencapaian mendapatkan perhatian, pujian, atau pengakuan. Namun, tidak semua bentuk kesetiaan dan pengorbanan memperoleh penghargaan yang terlihat. Seorang ibu dapat menghabiskan bertahun-tahun untuk merawat keluarganya, mempersiapkan kebutuhan anak, memperhatikan pasangan, dan mendoakan setiap anggota keluarganya. Ada saatnya ia merasa lelah, kecewa, bahkan menangis tanpa diketahui oleh orang lain. Mungkin tidak ada tepuk tangan, ucapan terima kasih, atau penghargaan khusus atas segala sesuatu yang telah dilakukannya. Akan tetapi, ketiadaan pengakuan manusia tidak membuat pengorbanan tersebut kehilangan nilainya di hadapan Tuhan.

    Tuhan melihat kesetiaan yang mungkin tidak diperhatikan oleh manusia. Ia mengetahui setiap jerih payah, doa, tanggung jawab, dan kebaikan yang dilakukan dengan hati yang tulus. Karena itu, ketika usaha kita belum dihargai atau keadaan belum berubah, jangan biarkan kekecewaan membuat hati menjadi pahit dan berhenti melakukan hal yang benar. Tetaplah mengasihi, melayani, dan menjalankan tanggung jawab dengan setia tanpa menjadikan penghargaan manusia sebagai ukuran keberhasilan. Kita dapat mempercayakan kehidupan dan masa depan kepada Tuhan yang mengetahui setiap perbuatan kita. Kehidupan yang berharga bukanlah kehidupan yang selalu mendapatkan pujian manusia, melainkan kehidupan yang dijalani dengan setia untuk memuliakan Tuhan. Biarlah Tuhan sendiri yang bekerja dan meninggikan kita menurut kehendak serta waktu-Nya.

PENUTUP

Kerendahan hati merupakan pilar penting yang menjaga kelimpahan agar tidak hanya dinikmati oleh diri sendiri, tetapi juga membawa kebaikan bagi orang lain. Melalui kerendahan hati, kita belajar melepaskan keegoisan, meneladani sikap dan ketaatan Yesus Kristus, serta mempercayakan setiap pengorbanan dan kesetiaan kepada Tuhan. Tidak semua kebaikan yang kita lakukan akan mendapatkan penghargaan, dan tidak semua keadaan akan berubah sesuai dengan keinginan kita. Namun, semua itu tidak boleh menghentikan kita untuk terus mengasihi dan melayani dengan tulus. Biarlah semakin besar berkat yang Tuhan percayakan, semakin rendah hati pula kehidupan kita, sehingga setiap perkataan, tindakan, dan pengorbanan tidak lagi berpusat pada kemuliaan diri sendiri, melainkan menjadi kesaksian yang memuliakan nama Tuhan.

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted