Ibadah Wanita Bethel Indonesia Mawar Saron – Pdt. Yohannes Nahuway, M.Th
Bacaan Alkitab : Matius 6:31-33
“Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
Pendahuluan
Wanita diciptakan Tuhan dengan kemampuan yang luar biasa. Seorang wanita mampu memikirkan banyak hal sekaligus, mengurus keluarga, mempersiapkan kebutuhan rumah tangga, memikirkan masa depan anak, menjaga hubungan keluarga, bahkan tetap menjalankan tanggung jawab pekerjaan dan pelayanan. Namun di balik kemampuan itu, sering kali tersimpan satu hal yang diam diam mencuri sukacita dan ketenangan hidup, yaitu kekhawatiran. Tidak sedikit wanita yang akhirnya hidup dalam tekanan batin karena pikirannya terus dipenuhi berbagai pertanyaan tentang hari esok. Apa yang akan dimakan, bagaimana keadaan keluarga nanti, bagaimana kondisi keuangan, bagaimana masa depan anak anak, dan berbagai pergumulan lainnya.
Firman Tuhan dalam Matius 6:31-33 mengingatkan agar umat Tuhan tidak hidup dalam kekhawatiran. Kata “khawatir” dalam bahasa Yunani adalah merimnaō, yang berarti pikiran yang terbagi, fokus yang terpecah, dan hati yang gelisah karena terlalu banyak memikirkan berbagai hal. Inilah yang sering terjadi dalam kehidupan banyak wanita. Pikiran menjadi penuh, hati menjadi lelah, dan akhirnya sukacita perlahan hilang. Kekhawatiran bukan hanya melelahkan secara emosi, tetapi juga dapat mencuri kelimpahan yang Tuhan sebenarnya sudah sediakan bagi kehidupan umat-Nya.
Tuhan Yesus memahami bahwa manusia memiliki kebutuhan hidup. Karena itu, Tuhan tidak berkata bahwa kebutuhan itu tidak penting. Tuhan justru menegaskan bahwa Bapa di sorga mengetahui semua kebutuhan umat-Nya. Ada hubungan yang dekat antara Tuhan dan anak-anak-Nya. Tuhan bukan pribadi yang jauh dan tidak peduli, melainkan Bapa yang mengetahuiapa yang diperlukan oleh setiap anak-Nya. Karena itu, fokus hidup orang percaya tidak boleh berhenti pada kekhawatiran, tetapi harus diarahkan kembali kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya.
1. Kekhawatiran Berawal dari Pikiran yang Terpecah
Banyak kali kekhawatiran muncul bukan pertama tama dari perkataan, tetapi dari pikiran. Ketika seseorang mulai memikirkan terlalu banyak hal sekaligus, hati menjadi tidak tenang. Tuhan Yesus menggambarkan bagaimana manusia sering berkata dalam hati, “Apa yang akan kami makan? Apa yang akan kami minum? Apa yang akan kami pakai?” Semua itu dimulai dari pikiran yang tidak lagi fokus kepada Tuhan.
Penelitian dunia bahkan menunjukkan bahwa wanita lebih rentan mengalami kecemasan dan stres dibanding pria. Tekanan keluarga, kondisi ekonomi, masa depan, tuntutan sosial, dan tanggung jawab rumah tangga membuat banyak wanita memikul beban yang berat dalam pikirannya. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa kekhawatiran yang berlebihan justru membuat hati kehilangan damai sejahtera. Pikiran yang terus bercabang akan menguras emosi dan membuat seseorang sulit menikmati hidup yang Tuhan berikan.
Karena itu, Tuhan Yesus mengajarkan agar umat-Nya tidak hidup dengan fokus yang terpecah. Tuhan tidak melarang seseorang membuat persiapan untuk masa depan, tetapi Tuhan menegur hati yang terus hidup dalam ketakutan dan kegelisahan. Ada perbedaan antara mempersiapkan masa depan dengan hidup dalam kekhawatiran. Persiapan dilakukan dengan hikmat, sedangkan kekhawatiran lahir dari hati yang kehilangan fokus kepada Tuhan.
2. Fokus Kepada Tuhan Membawa Ketenangan
Tuhan Yesus memberikan jawaban yang sangat jelas atas kekhawatiran manusia: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.” Tuhan tidak berkata agar manusia pertama tama mencari solusi, mencari jalan keluar, atau mencari pertolongan manusia. Tuhan mengarahkan fokus hidup kembali kepada Kerajaan Allah.
Kerajaan berbicara tentang pemerintahan seorang raja. Ketika seseorang hidup di dalam Kerajaan Allah, maka Tuhan menjadi Raja atas hidupnya. Artinya, ada keyakinan bahwa Tuhan sanggup memelihara, mencukupi, dan menolong setiap kebutuhan umat-Nya.Kekhawatiran mulai kehilangan kuasanya ketika seseorang belajar menyerahkan hidup kepada Tuhan dan percaya bahwa Tuhan memegang kendali atas masa depan.
Hati yang dekat dengan Tuhan akan lebih mudah tenang sekalipun situasi hidup belum berubah. Karena itu, firman Tuhan mendorong umat-Nya untuk banyak membaca Alkitab, berdoa, dan menjaga hubungan pribadi dengan Tuhan. Semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin pikirannya dipenuhi damai sejahtera. Fokus kepada Kristus akan menolong hati untuk tidak terus menerus dikuasai rasa takut dan kekhawatiran.
3. Kelimpahan Dimulai dari Hati yang Tenang
Kekhawatiran sering kali membuat seseorang kehilangan sukacita dalam rumah tangga. Ketika pikiran terlalu penuh, emosi menjadi mudah meledak, hubungan dengan pasangan menjadi terganggu, bahkan anak-anak dapat terkena dampaknya. Karena itu, Tuhan rindu agar wanita belajar menjaga hati dan pikirannya supaya tetap dipenuhi damai sejahtera.
Wanita memang memiliki kemampuan memikirkan banyak hal sekaligus, tetapi kemampuan itu perlu diarahkan dengan benar. Jangan sampai pikiran yang terlalu bercabang justru menjadi pintu masuk bagi stres, ketakutan, dan kelelahan batin. Tuhan rindu setiap wanita memiliki hati yang tenang sehingga rumah tangga pun dipenuhi sukacita dan keteduhan.
Ketika seorang wanita hidup dalam damai sejahtera Tuhan, maka atmosfer rumah juga akan dipenuhi ketenangan dan kasih.
Kelimpahan tidak hanya berbicara tentang berkat jasmani, tetapi juga tentang kelimpahan jiwa dan rohani. Tuhan ingin umat-Nya memiliki hati yang kuat, pikiran yang sehat, dan iman yang tetap teguh di tengah tekanan hidup. Karena itu, jangan biarkan kekhawatiran mencuri kelimpahan yang Tuhan sudah sediakan. Belajarlah kembali memusatkan hati kepada Tuhan, sebab di dalam Dia selalu ada pertolongan, kekuatan, dan damai sejahtera yang tidak tergoncangkan.
Penutup
Kekhawatiran mungkin datang dalam berbagai bentuk, mulai dari urusan keluarga, ekonomi, kesehatan, hingga masa depan. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa hidup orang percaya tidak dibangun di atas ketakutan, melainkan di atas iman kepada Tuhan yangmemelihara. Ketika pikiran mulai bercabang dan hati mulai gelisah, Tuhan memanggil umat-Nya untuk kembali mencari Kerajaan Allah dan percaya bahwa Bapa di sorga mengetahui semua kebutuhan anak-anak-Nya. Saat hati kembali fokus kepada Tuhan, damai sejahtera akan memenuhi kehidupan, sukacita akan dipulihkan, dan kelimpahan yang Tuhan sediakan tidak lagi dicuri oleh kekhawatiran.