Ibadah Wanita Bethel Indonesia Mawar Saron – Pdp. Hengra, S.Kom.
Bacaan Alkitab : 1 Yohanes 4:7
“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengsihi, sebab kasih itu bersal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”
Pendahuluan
Kasih sering kali dipahami sebagai perasaan sayang, cinta, atau belas kasihan. Namun, kasih yang berasal dari Allah jauh melampaui perasaan. Allah tidak hanya menyatakan bahwa Ia mengasihi manusia, tetapi menghadirkan kasih itu secara nyata melalui Yesus Kristus. Kasih Allah terlihat melalui pengorbanan, penerimaan, dan keselamatan yang diberikan kepada manusia yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Karena itu, kasih bukan sekadar suesuatu yang diketahui atau dirasakan, tetapi sesuatu yang diwujudkan melalui kehidupan.
Diantara berbagai bentuk kasih, kasih Agape menunjukkan kasih yang murni, tanpa syarat, tanpa tuntutan, dan tidak didasarkan pada perhitungan timbal balik. Kasih yang seperti inilah yang Allah tunjukkan kepada manusia. kita tidak terlebih dahulu melakukan sesuatu agar layak dikasihi, tetapi Allah mengambil inisiatif untuk mengasihi kita. 1 Yohanes 4:10 berkata, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” Karena telah menerima kasih itu, kita pun dipanggil untuk belajar mengaihi dengan cara yang sama. Agape bukanlah tentang menemukan mannusia yang sempurna untuk dicintai, melainkan belajar mencintai manusia yang tidak sempurna dengan cara Tuhan yang sempurna.
Kasih yang berasal dari Allah tidak berhenti sebagai konsep. Kasih bergerak dan menghasilkan sesuatu yang baik. Ketika kasih Agape memenuhi kehidupan, kebaikannya akan dirasakan dalam tiga lingkup yang sangat dekat dengan kehidupan kita, yaitu diri sendiri, keluarga, dan orang lain.
3 Dampak Kasih Agape (1 Yohanes 4:7-10)
1. Kasih Mendatangkan Sesuatu yang Baik bagi Diri Sendiri
1 Yohanes 4:7 berkata, “Saudara saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.” Kasih bukanlah syarat agar seseorang menjadi anak Allah, tetapi menjadi buah dari kehidupan seseorang yang telah mengenal Allah. Semakin kita mengenal kasih Tuhan, semakin kita belajar mengasihi dengan kasih yang tidak terus menghitung apa yang telah kita berikan dan apa yang seharusnya kita terima sebagai balasannya.
Kasih yang selalu menuntut balasan akan mudah melahirkan kekecewaan. Kita mulai menghitung berapa kali telah berbuat baik, berapa kali telah mengampuni, atau berapa banyak yang telah diberikan kepada seseorang. Ketika balasan yang diharapkan tidak datang, hati menjadi mudah terluka, kecewa, bahkan menyimpan dendam. Tanpa disadari, beban tersebut justru lebih dahulu merugikan diri sendiri. Kebencian kepada seseorang dapat menghilangkan sukacita dan damai sejahtera kita, sementara orang yang kita benci belum tentu merasakan beban yang sama.
Kasih Agape membebaskan kita dari pola hidup seperti itu. Kita belajar berbuat baik bukan karena menunggu orang lain berbuat baik terlebih dahulu, tetapi karena kita sendiri telah menerima kasih Tuhan. Kita belajar mengampuni bukan karena kesalahan orang lain menjadi benar, tetapi karena kita tidak ingin terus terikat oleh kepahitan dan dendam. Mengampuni adalah membebaskan seorang tawanan, dan tawanan yang pertama adalah diri kita sendiri. Ketika kasih Tuhan memenuhi hati, kita tidak lagi hidup dengan terus menghitung, menuntut, dan menyimpan luka, tetapi memiliki ruang untuk mengalami damai sejahtera.
2. Kasih Mendatangkan Sesuatu yang Baik bagi Keluarga
Kasih perlu dimulai dari tempat yang paling dekat, yaitu keluarga. Tempat pertama untuk mempraktikkan kasih bukanlah di hadapan banyak orang, melainkan di rumah bersama pasangan, anak, orang tua, dan anggota keluarga lainnya. Mengasihi orang di luar rumah terkadang terasa lebih mudah karena mereka hanya melihat sebagian dari kehidupan kita. Sebaliknya, keluarga mengenal diri kita lebih dekat, termasuk kelemahan, kebiasaan, dan karakter yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Justru di tempat inilah kasih Agape perlu menjadi nyata.
Kasih dalam keluarga tidak seharusnya bergantung pada apakah pasangan masih memenuhi semua alasan yang dahulu membuat kita mencintainya. Manusia dapat berubah, keadaan dapat berubah, dan keluarga akan menghadapi berbagai persoalan. Demikian juga kasih kepada anak tidak boleh bergantung pada nilai yang selalu baik atau keberhasilan yang mereka capai. Kasih yang berasal dari Tuhan belajar menerima dan tetap mengasihi ketika orang yang kita kasihi sedang berada dalam kelemahan. Kasih Agape tidak menunggu seseorang menjadi sempurna terlebih dahulu untuk layak dikasihi.
Kasih juga perlu hadir melalui perkataan. Rumah bukan hanya dibangun melalui apa yang tersedia di meja makan atau kebutuhan yang berhasil dipenuhi, tetapi juga melalui kata kata yang terus didengar oleh anggota keluarga. Anak mungkin lupa makanan yang pernah disiapkan untuknya, tetapi perkataan yang terus menerus ia dengar dapat tinggal lama di dalam hatinya. Karena itu, ketika konflik terjadi, kasih menolong kita menyelesaikan persoalan tanpa menghancurkan pribadi orang yang kita kasihi. Keluarga seharusnya menjadi tempat pengampunan paling nyata dan tempat yang aman untuk kembali. Keluarga yang tak tertembus badai tidak dibangun oleh manusia yang sempurna, melainkan oleh jiwa yang menolak untuk berhenti mengampuni.
3. Kasih Mendatangkan Sesuatu yang Baik bagi Orang Lain
Kasih Allah selalu bergerak keluar. 1 Yohanes 4:9 menyatakan bahwa kasih Allah dinyatakan dengan mengutus Anak Nya yang tunggal ke dalam dunia supaya kita hidup oleh Nya. Allah tidak hanya menyatakan kasih melalui perkataan, tetapi mengambil langkah untuk menjangkau manusia. Demikian pula kasih yang telah kita terima dari Tuhan tidak seharusnya berhenti pada diri sendiri dan keluarga. Kasih itu perlu mengalir kepada orang lain. Kasih Agape tidak bersifat egois. Kasih selalu ingin memberi dan menjangkau.
Kasih seperti ini menjadi semakin nyata ketika diberikan kepada orang yang sulit dikasihi. Yesus memberikan teladan ketika Ia mengalami penghinaan dan penderitaan di kayu salib. Ia tidak memilih membalas dengan kebencian, tetapi mengampuni. Karena itu, kita pun dipanggil untuk belajar merespons perkataan yang menyakitkan dengan kelembutan, kesalahpahaman dengan kesabaran, dan perlakuan yang tidak menyenangkan tanpa membiarkan kebencian menguasai hati. Ketika kasih menjadi respons kita, kehidupan kita menunjukkan bahwa Kristus hidup di dalam kita.
Kita dapat mengasihi karena terlebih dahulu telah menerima kasih Allah. Kita dapat membawa pemulihan karena terlebih dahulu telah dipulihkan oleh Nya. Kasih yang kita terima kemudian menjadi kasih yang dapat kita bagikan kepada orang lain, termasuk kepada mereka yang terluka, kecewa, merasa tertolak, atau membutuhkan penerimaan. Saya dikasihi Allah. Saya dipulihkan oleh Allah. Saya dipakai Allah untuk mengasihi.
Penutup
Wanita yang berkelimpahan bukan hanya wanita yang memiliki banyak hal secara materi. Kelimpahan yang sejati terlihat ketika hati dan kehidupan dipenuhi kasih Agape hingga kasih itu melimpah keluar dan memberkati orang lain. Ketika kasih Tuhan memenuhi batin kita, kasih itu membawa kebaikan bagi diri sendiri, membangun keluarga menjadi tempat yang aman, dan mengalir kepada orang lain yang membutuhkan penerimaan dan pemulihan.
Dunia dipenuhi tuntutan, syarat, penolakan, dan penghakiman. Karena itu, orang yang datang dengan luka tidak selalu membutuhkan lebih banyak penghakiman, tetapi membutuhkan kasih yang dapat merangkul dan menolongnya mengalami pemulihan. Biarlah kasih yang telah kita terima dari Tuhan tidak berhenti pada diri kita sendiri. Kasih itu harus terus mengalir, memenuhi keluarga, menjangkau sesama, dan membuat kehidupan kita menjadi tempat di mana orang lain dapat merasakan kasih Kristus.