Ibadah Wanita Bethel Indonesia Mawar Saron – Pdp. Aan Tanjung, S.E.

Bacaan Alkitab : Mazmur 73:28

“Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.”

Pendahuluan

Ketika mendengar kata jauh dari Tuhan, banyak orang langsung membayangkan seseorang yang sudah tidak lagi beribadah, tidak melayani, atau meninggalkan persekutuan. Padahal, kenyataannya seseorang dapat tetap hadir di gereja, aktif dalam pelayanan, bahkan setia mengikuti berbagai kegiatan rohani, tetapi hatinya perlahan menjauh dari Tuhan. Kesibukan, dosa yang tidak dibereskan, dan rasa mampu mengandalkan diri sendiri sering kali membuat hubungan dengan Tuhan menjadi hambar tanpa disadari. Alkitab mengajarkan bahwa kelimpahan sejati bukan pertama-tama berbicara tentang harta, jabatan, kesehatan, atau keberhasilan, melainkan tentang hidup yang dekat dengan Tuhan.

Dari hubungan yang intim dengan-Nya mengalir damai sejahtera, hikmat, kekuatan, dan penyertaan yang memampukan seseorang menjalani setiap musim kehidupan. Sebaliknya, ketika hubungan itu mulai renggang, dampaknya tidak hanya dirasakan dalam kehidupan rohani, tetapi juga memengaruhi cara berpikir, mengambil keputusan, hingga menikmati kelimpahan yang telah Tuhan sediakan. Itulah sebabnya Mazmur 73:28 mengingatkan, “Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan Allah supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.”

3 Hal Penting Mengenai Jauh dari Tuhan

1. Mengapa Orang Menjadi Jauh dari Tuhan?

Hubungan dengan Tuhan tidak menjadi renggang dalam sekejap. Sering kali, seseorang menjauh sedikit demi sedikit melalui pilihan-pilihan yang tampak biasa dalam kehidupan sehari-hari. Kesibukan yang terus bertambah membuat waktu bersama Tuhan semakin berkurang, dosa yang tidak segera dibereskan mengeraskan hati, dan rasa mampumengandalkan kekuatan sendiri perlahan menggantikan ketergantungan kepada Tuhan. Kisah Maria dan Marta (Lukas 10:38-42) menunjukkan bahwa kesibukan bukanlah masalah utama, melainkan ketika kesibukan membuat seseorang kehilangan prioritas untuk menikmati hadirat Tuhan. Maria memilih duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan Marta begitu sibuk melayani hingga kehilangan damai dan fokus pada Pribadi yang sedang ia layani.

Kesibukan hidup bukanlah dosa, tetapi ketika pekerjaan, pelayanan, keluarga, atau berbagai aktivitas menjadi prioritas yang menggeser Tuhan dari tempat yang terutama, hubungan dengan-Nya mulai merosot. Di sisi lain, dosa yang dipelihara membuat hati semakin sulit mendengar suara Tuhan karena menciptakan jarak antara manusia dengan Allah. Selain itu, keberhasilan dan kemampuan diri juga dapat menjadi jebakan ketika seseorang merasa tidak lagi membutuhkan pertolongan Tuhan dalam setiap langkah hidupnya. Akibatnya, doa mulai berkurang, ketergantungan kepada Tuhan memudar, dan seseorang lebih mengandalkan pengertiannya sendiri daripada tuntunan firman-Nya.

Karena itu, penting untuk terus memeriksa kondisi hati di hadapan Tuhan. Hubungan dengan Tuhan tidak dipelihara hanya melalui rutinitas keagamaan, melainkan melalui kehidupan yang terus mencari hadirat-Nya, hidup dalam pertobatan, dan bersandar kepada kasih karunia-Nya. Ketika Tuhan tetap menjadi pusat kehidupan, kesibukan tidak akan menjauhkan kita dari-Nya, dosa tidak akan dibiarkan berakar, dan setiap keberhasilan justru membawa kita semakin rendah hati serta bergantung kepada Tuhan.

2. Akibat Jauh dari Tuhan

Menjauh dari Tuhan bukan hanya memengaruhi kehidupan rohani, tetapi juga berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Firman Tuhan dalam Yesaya 57:20-21 menggambarkan orang yang jauh dari Tuhan seperti laut yang terus berombak dan tidak pernah tenang. Hatinya dipenuhi kecemasan, ketakutan, dan kegelisahan karena kehilangan damai sejahtera yang hanya dapat diberikan oleh Tuhan. Damai sejati bukan ditentukan oleh keadaan yang bebas masalah, melainkan oleh kedekatan dengan Tuhan yang menopang kehidupan di tengah setiap musim.

Selain kehilangan damai sejahtera, orang yang jauh dari Tuhan juga kehilangan hikmat dalam mengambil keputusan. Yeremia 8:9 menyatakan bahwa ketika seseorang menolak firmanTuhan, ia kehilangan hikmat yang berasal dari Allah. Akibatnya, keputusan-keputusan hidup lebih mudah dipengaruhi oleh emosi, tekanan dunia, dan keinginan pribadi daripada kebenaran firman. Semakin jauh seseorang dari Tuhan, semakin ia kehilangan kepekaan rohani untuk membedakan kehendak Allah, sehingga langkah-langkah hidupnya pun mudah menyimpang dari rencana-Nya.

Dampak berikutnya adalah kelimpahan hidup menjadi terhambat. Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai pokok anggur dan orang percaya sebagai ranting. Sebagaimana ranting tidak dapat menghasilkan buah apabila terlepas dari pokoknya, demikian pula seseorang tidak dapat mengalami kehidupan yang berbuah apabila tidak tinggal di dalam Kristus. Ketika hubungan dengan Tuhan mulai renggang, damai sejahtera, hikmat, dan kepekaan rohani ikut memudar. Jika keadaan ini terus dibiarkan tanpa pertobatan, hati dapat menjadi semakin keras dan akhirnya hidup jauh dari kehendak Tuhan. Sebaliknya, orang yang tetap tinggal di dalam Kristus akan terus menerima kekuatan, pertumbuhan, dan kelimpahan yang berasal dari-Nya.

3. Apa yang Harus Dilakukan?

Kabar baiknya, Tuhan tidak pernah menutup jalan bagi orang yang ingin kembali kepada-Nya. Sekalipun seseorang telah merasa jauh, Tuhan selalu membuka kesempatan untuk mengalami pemulihan. Langkah pertama adalah berbalik kepada Tuhan dengan mengakui dan meninggalkan dosa. Ketika seseorang dengan rendah hati mengaku dosanya, Tuhan yang setia dan adil akan mengampuni serta menyucikannya dari segala kejahatan (1 Yohanes 1:9). Pertobatan yang sungguh-sungguh menjadi awal dipulihkannya hubungan yang sempat renggang dengan Tuhan.

Langkah berikutnya adalah membangun kembali hubungan yang intim dengan Tuhan melalui kehidupan yang berakar pada firman-Nya. Hubungan dengan Tuhan tidak cukup dibangun hanya pada hari Minggu, tetapi dipelihara setiap hari melalui doa, pembacaan firman, dan perenungan akan firman Tuhan. Sebagaimana Yosua diingatkan untuk terus memperkatakan dan merenungkan kitab Taurat siang dan malam agar hidupnya berhasil (Yosua 1:8), demikian pula orang percaya dipanggil untuk terus tinggal dalam firman. Hati juga perlu dijaga agar tidak menjauh dari kasih karunia Allah dan tidak memberi ruang bagi akar kepahitan yang dapat merusak kehidupan rohani (Ibrani 12:15).

Pemulihan hubungan dengan Tuhan tidak berhenti pada kehidupan pribadi, tetapi juga perlu terpancar kepada orang-orang di sekitar. Setiap orang percaya dipanggil menjadi teladanrohani bagi keluarganya dengan menghidupi firman Tuhan dalam keseharian. Firman Tuhan mengajarkan agar setiap orang tua terus mengajarkan firman kepada anak-anaknya dalam setiap kesempatan kehidupan (Ulangan 6:6-7). Ketika kasih kepada Tuhan nyata dalam perkataan, sikap, dan tindakan, keluarga akan melihat teladan iman yang hidup. Dengan demikian, hubungan yang dekat dengan Tuhan tidak hanya membawa pemulihan bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi berkat yang menguatkan dan membangun generasi berikutnya.

Penutup

Dosa yang disembunyikan mungkin dapat tersembunyi dari pandangan manusia, tetapi tidak pernah luput dari hadapan Tuhan. Karena itu, jangan biarkan rasa malu, takut, atau gengsi membuat kita terus memelihara dosa yang justru menghambat kelimpahan dan merusak hubungan dengan Allah. Sebaliknya, marilah kita datang kepada Tuhan dengan hati yang rendah, mengakui setiap pelanggaran, meninggalkannya, dan hidup dalam pertobatan. Ketika kita memilih hidup dalam terang firman-Nya, Tuhan yang setia akan mengampuni, memulihkan, serta membawa kita kembali menikmati kasih karunia, sukacita, dan kelimpahan yang telah Dia sediakan bagi setiap anak-Nya.

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted