Bacaan Alkitab : Bilangan 13:25–33; 14:1–4
Ayat Renungan : Bilangan 14:28
-Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan, bahwasanya seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Kulakukan kepadamu.-
PENDAHULUAN
Setiap hari manusia mengucapkan ribuan kata, baik kepada orang lain maupun kepada dirinya sendiri. Tanpa disadari, setiap perkataan yang terus diulang perlahan membentuk cara berpikir, memengaruhi keputusan, dan akhirnya menentukan arah kehidupan. Karena itu, Alkitab mengingatkan bahwa apa yang keluar dari mulut bukanlah sesuatu yang sepele, melainkan cerminan dari isi hati seseorang. Ketika hati dipenuhi iman, perkataan akan membawa kehidupan. Sebaliknya, ketika hati dikuasai ketakutan dan pesimisme, perkataan dapat menjadi pintu masuk yang mencuri damai sejahtera dan menghambat seseorang menikmati kelimpahan yang Tuhan sediakan.
Perkataan mungkin terdengar sederhana, tetapi memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan seseorang. Apa yang terus-menerus diucapkan dapat membentuk cara berpikir, memengaruhi keputusan, dan menentukan arah hidup. Itulah sebabnya Alkitab mengajarkan bahwa perkataan yang keluar dari mulut merupakan cerminan dari isi hati. Ketika hati dipenuhi iman, perkataan akan membawa pengharapan. Sebaliknya, ketika hati dikuasai ketakutan dan keraguan, perkataan negatif dapat menjadi pencuri damai sejahtera dan menghalangi seseorang menikmati kelimpahan yang Tuhan sediakan.
3 JENIS KELIMPAHAN YANG DICURI OLEH PERKAAN NEGATIF (Bil. 13:25-33;14:1-4)
1. Berkurangnya Sejahtera Diri Sendiri (Bilangan 13:31-33)
Kisah dua belas pengintai dalam Bilangan 13 memperlihatkan bahwa semua pengintai melihat negeri, kota, dan tantangan yang sama. Mereka sama-sama menyaksikan tanah yang berlimpah susu dan madu, sekaligus melihat kota-kota yang berkubu dan bangsa-bangsa yang kuat. Namun, hasil laporan mereka sangat berbeda. Sepuluh pengintai terus memperkatakanketidakmampuan dengan berkata, “Kita tidak dapat maju,” bahkan memandang diri mereka seperti belalang. Sebaliknya, Yosua dan Kaleb memilih memperkatakan iman dengan keyakinan bahwa Tuhan menyertai mereka. Perbedaannya bukan pada apa yang mereka lihat, melainkan pada apa yang mereka pilih untuk ucapkan.
Perkataan yang lahir dari ketakutan akhirnya membentuk cara pandang mereka terhadap diri sendiri dan masa depan. Ketika seseorang terus mengucapkan kalimat-kalimat negatif, pikirannya akan semakin mempercayai apa yang diucapkannya. Rasa takut bertambah besar, pikiran menjadi semakin sempit, dan damai sejahtera perlahan menghilang. Padahal, persoalan yang dihadapi belum tentu sebesar yang dibayangkan. Sering kali perkataan negatif justru memperbesar masalah di dalam hati, sehingga seseorang kehilangan keberanian untuk melangkah.
Karena itu, Tuhan menghendaki umat-Nya memenuhi hati dengan firman dan memperkatakan janji-Nya. Keadaan mungkin sama, tetapi respons orang percaya seharusnya berbeda. Di tengah krisis ekonomi, misalnya, ada yang berkata, “Habislah saya,” sementara orang yang beriman memilih berkata, “Tuhan akan menolong saya.” Perkataan negatif menjadikan masalah terasa lebih besar daripada Tuhan, sedangkan perkataan iman mengingatkan bahwa Tuhan selalu lebih besar daripada setiap persoalan. Itulah sebabnya orang percaya perlu membangun kehidupan rohani melalui pembacaan firman, doa, puasa, dan kebiasaan mendeklarasikan janji Tuhan agar hati dipenuhi iman dan mulut menghasilkan perkataan yang membawa kehidupan.
2. Berkurangnya Sejahtera Orang Lain (Bilangan 14:1-4)
Perkataan tidak pernah berhenti pada diri sendiri. Apa yang diucapkan seseorang dapat memengaruhi orang-orang di sekitarnya, bahkan mengubah arah sebuah komunitas. Hal itulah yang terjadi dalam Bilangan 14:1-4. Setelah sepuluh pengintai menyampaikan laporan yang dipenuhi ketakutan, seluruh bangsa Israel kehilangan keberanian. Mereka menangis, bersungut-sungut kepada Musa dan Harun, bahkan berharap lebih baik mati di padang gurun atau kembali menjadi budak di Mesir. Ketakutan yang semula ada di hati sepuluh orang akhirnya menyebar dan menguasai jutaan orang. Perkataan negatif tidak hanya merusak diri sendiri, tetapi juga menghilangkan damai sejahtera orang lain.Setiap perkataan memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada yang sering disadari. Ucapan yang terus-menerus dipenuhi keluhan, pesimisme, dan ketidakpercayaan dapat menciptakan suasana yang melemahkan semangat di rumah, di tempat kerja, maupun di gereja. Sebaliknya, perkataan yang lahir dari iman mampu membangkitkan pengharapan dan keberanian. Tidak heran jika sepuluh pengintai membuat bangsa Israel takut melangkah, sementara Yosua dan Kaleb mengajak mereka percaya kepada penyertaan Tuhan. Perkataan negatif membuat orang enggan maju, sedangkan perkataan iman mendorong orang berani memasuki rencana Tuhan.
Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi pembawa perkataan yang membangun. Di dalam keluarga, kata-kata yang diucapkan kepada pasangan, anak-anak, maupun orang tua dapat membentuk suasana rumah. Di dalam gereja, perkataan yang keluar dari mulut seorang jemaat dapat menguatkan atau justru melemahkan sesama pelayan dan pemimpin. Memasuki Tahun Kelimpahan, Tuhan menghendaki umat-Nya menaburkan perkataan yang dipenuhi iman, pengharapan, dan kasih. Kelimpahan tidak akan bertumbuh di tengah budaya yang dipenuhi keluhan, tetapi akan berkembang ketika umat Tuhan membiasakan diri mengucapkan kata-kata yang menguatkan, memberkati, dan mengarahkan orang lain kepada janji Tuhan.
3. Berkurangnya Sejahtera Bangsa (Yohanes 21:22; Mazmur 139: 13-16)
Perkataan negatif bukan hanya berdampak pada diri sendiri atau orang-orang di sekitar, tetapi juga dapat memengaruhi masa depan sebuah generasi. Dalam Bilangan 14:26-30, Tuhan menyatakan bahwa Ia mendengar setiap sungut-sungut bangsa Israel. Bahkan Tuhan berkata, “Seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Kulakukan kepadamu.” Ucapan mereka yang terus dipenuhi ketakutan, keraguan, dan penolakan terhadap janji Tuhan akhirnya menjadi alasan mengapa generasi itu tidak memasuki Tanah Perjanjian. Sebaliknya, hanya Kaleb dan Yosua yang tetap memegang perkataan iman sehingga mereka menikmati penggenapan janji Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa perkataan bukan sekadar bunyi yang keluar dari mulut, melainkan cerminan dari iman yang hidup di dalam hati.
Ironinya, mereka yang gagal memasuki Kanaan justru adalah generasi yang telah mengalami begitu banyak karya Tuhan. Orang-orang yang berusia dua puluh tahun ke atas telah menyaksikan sepuluh tulah di Mesir, Paskah pertama, Laut Teberau terbelah, tiang awandan tiang api, air dari gunung batu, manna dari surga, hingga perjanjian di Gunung Sinai.
Mereka telah dibebaskan dari perbudakan Mesir, tetapi tetap hidup sebagai “budak” dari perkataan negatif mereka sendiri. Pengalaman melihat mujizat ternyata tidak cukup apabila hati tetap dipenuhi ketidakpercayaan. Perkataan yang terus diucapkan akhirnya membelenggu mereka lebih kuat daripada perbudakan yang pernah mereka tinggalkan.
Karena itu, orang percaya dipanggil untuk memenuhi hati dengan firman Tuhan agar mulut menghasilkan perkataan iman. Pikiran yang terus mencela diri sendiri dan masa depan perlu digantikan dengan janji-janji Tuhan, sementara setiap ucapan hendaknya menjadi perkataan yang membangun, menguatkan, dan memberkati. Seperti seorang petani yang tidak mungkin menuai gandum jika setiap hari menabur ilalang, demikian pula setiap kata yang ditaburkan melalui mulut akan memengaruhi suasana hati, relasi, bahkan arah kehidupan.
Yosua dan Kaleb tidak menolak kenyataan bahwa ada raksasa di Tanah Perjanjian, tetapi mereka memilih melihat bahwa Tuhan jauh lebih besar daripada raksasa itu. Iman tidak menyangkal realitas, melainkan menyatakan bahwa kuasa Tuhan selalu lebih besar daripada setiap persoalan. Itulah sebabnya, untuk memasuki Tahun Kelimpahan dan menikmati penggenapan janji Tuhan, setiap orang percaya dipanggil untuk meninggalkan perkataan kekalahan dan mulai memperkatakan firman, pengharapan, serta kemenangan yang berasal dari Tuhan.
PENUTUPAN
Perkataan yang keluar dari mulut mencerminkan apa yang memenuhi hati. Ketika hati dipenuhi ketakutan, keraguan, dan pesimisme, perkataan negatif akan menghalangi seseorang menikmati damai sejahtera dan janji Tuhan. Sebaliknya, ketika hati dipenuhi firman dan iman kepada Tuhan, setiap perkataan akan membawa pengharapan, keberanian, dan kehidupan.
Memasuki Tahun Kelimpahan, Tuhan mengundang setiap orang percaya untuk meninggalkan setiap keluhan dan pengakuan yang negatif, lalu mulai memperkatakan janji-janji-Nya. Sebab Tuhan telah menyediakan rancangan damai sejahtera dan hari depan yang penuh harapan bagi umat-Nya, sehingga setiap perkataan yang lahir dari iman akan membawa langkah demi langkah menuju penggenapan rencana-Nya