Bacaan Alkitab: Galatia 2:15-21
Ayat Renungan: Galatia 2:20
“Namun, aku hidup, tetapi bukan aku lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan kata selesai sebagai keadaan yang telah berakhir, rampung, dan tidak menyisakan sesuatu yang perlu dikerjakan lagi. Pengertian ini memberikan pemahaman penting dalam kehidupan rohani orang percaya. Kehidupan Kristen tidak hanya berbicara tentang memulai hidup baru di dalam Kristus, melainkan juga tentang mengakhiri kehidupan lama yang berpusat pada ego dan kehendak diri. Perjalanan iman yang sejati selalu menuntut adanya titik akhir bagi ke-aku-an manusia, sehingga kehidupan yang baru dapat dibangun di atas dasar yang benar.
Rasul Paulus menyatakan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus,” sebagai penegasan bahwa manusia lama telah mencapai akhirnya. Salib Kristus bukan hanya tempat pengampunan dosa, tetapi juga titik penghentian otoritas diri. Kehendak pribadi, ambisi manusia, dan pembenaran diri tidak lagi memegang kendali atas kehidupan orang percaya. Selesai dengan diri sendiri berarti menyerahkan hak untuk mengatur hidup kepada Kristus, sehingga identitas baru dapat bertumbuh di dalam ketaatan kepada kehendak Allah.
Paulus melanjutkan pernyataan paradoksal, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Kehidupan Kristen tidak dihapuskan, tetapi mengalami perubahan pusat. Kristus tidak menjadi tambahan dalam hidup manusia, melainkan menjadi sumber kehidupan itu sendiri. Kehadiran Kristus melalui Roh Kudus menandai kedewasaan rohani, karena kehidupan tidak lagi dikendalikan oleh ego, melainkan oleh kehendak dan kehidupan Kristus yang bekerja di dalam diri orang percaya.
Penegasan Paulus tentang hidup oleh iman dalam Anak Allah menempatkan kasih Kristus sebagai dasar utama transformasi rohani. Kesadaran akan kasih Kristus yang telah menyerahkan diri-Nya membentuk sikap hidup yang rela melepaskan kepentingan pribadi. Orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri tidak lagi hidup untuk mempertahankan ego, tetapi untuk memuliakan Allah melalui kehidupan yang berbuah.
✨Selesai dengan diri sendiri bukanlah kehilangan hidup, melainkan pintu menuju kehidupan yang sejati.✨
-GN