Bacaan Alkitab : Efesus 2:11-20; Mazmur 145:1-4

Ayat Renungan : Efesus 2:20

“yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu

penjuru.”

INTRODUCTION

Empat puluh delapan tahun perjalanan gereja bukan sekadar penanda usia organisasi, melainkan kesaksian nyata tentang kesetiaan Tuhan yang terus memelihara umat-Nya di tengah berbagai dinamika zaman, pergantian generasi, dan tantangan pelayanan. Perjalanan panjang ini membuktikan bahwa gereja tidak bertahan karena kekuatan figur atau kemampuan manusia semata, tetapi karena memiliki fondasi yang benar, yaitu Kristus dan Firman-Nya sebagai dasar yang kokoh. Selama fondasi tersebut dijaga dan dihidupi, gereja akan tetap berdiri teguh sekalipun keadaan berubah. Dalam konteks rangkaian “8 Asas Hidup Berkelimpahan”, refleksi ini menegaskan bahwa kelimpahan sejati tidak hanya berbicara tentang berkat pribadi, tetapi tentang menjadi bagian dari gereja yang benar, yang berakar pada Firman Tuhan dan menjadikan Kristus sebagai pusatnya, sehingga dari sana lahir jemaat yang bertumbuh sehat dan berdampak luas bagi banyak orang.

2 MODEL GEREJA YANG BENAR AGAR HIDUP BERKELIMPAHAN SEBAGAI

JEMAAT GBI MAWAR SARON

1. Gereja Yang Benar Mempunyai Fondasi Firman Tuhan

Efesus 2:11-20

Rasul Paulus menegaskan bahwa gereja dibangun di atas dasar para rasul dan nabi dengan Kristus sebagai batu penjuru. Artinya, gereja yang benar tidak dibangun di atas emosi, tren, popularitas, atau figur manusia, melainkan di atas Firman Tuhan yang kokoh dan tidak berubah.

a. Gereja yang Benar Tidak Dibangun karena Figur ManusiaEfesus 2:11 “Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu–sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia,

Identitas rohani bukan berasal dari status lahiriah atau pengakuan manusia. Prinsip ini juga berlaku bagi gereja. Gereja yang benar bukan tentang siapa gembala sidangnya, bukan tentang penatua atau diaken, bukan tentang majelis atau pengurus, bahkan bukan tentang jemaatnya. Semua itu penting, tetapi bukan fondasi. Fondasi gereja yang benar adalah Firman Tuhan.

Dalam konteks HUT ke-48, perayaan ini bukan sekadar ulang tahun organisasi. Ini adalah perayaan ketaatan gereja kepada Firman Tuhan selama 48 tahun. Estafet pelayanan dari Alm. Pdt. Dr. Jacob Nahuway, M.A., kepada Pdt. Yohannes Nahuway, M.Th., bukanlah pergantian figur semata, tetapi kelanjutan komitmen terhadap Firman. Khotbah tetap pengajaran, pengajaran semakin mendalam, dan jemaat tidak lagi diberi makan rohani dengan sendok teh atau sendok makan, tetapi dengan sekop. Artinya, gereja ini dipanggil untuk

semakin dewasa dan semakin dalam dalam pengenalan akan Kristus. Fokus kita bukan pada orangnya, melainkan pada Kristus. Kita tidak bergantung pada siapa yang berdiri di mimbar, tetapi pada Firman yang diberitakan. Kita juga tidak mudah terbawa arus popularitas atau tren yang sedang ramai, melainkan tetap kembali pada isi gereja yang sesungguhnya, yaitu kebenaran Firman Tuhan. Selama gereja berdiri di atas Firman dan terus menjaganya, gereja itu akan tetap kuat dan tidak mudah digoyahkan oleh perubahan zaman.

b. Gereja yang Benar Tetap Ada Walau Pendiri Tiada

Efesus 2:20 “yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

Kristus adalah batu penjuru. Pendiri gereja bisa dipanggil pulang oleh Tuhan, gembala bisa berganti, generasi bisa berubah, tetapi dasar tidak boleh berubah. Selama Kristus tetap menjadi pusat dan Firman-Nya menjadi pedoman, gereja akan terus hidup dan memenuhi panggilannya. Empat puluh delapan tahun yang lalu, visi “Berkarakter Kristus dan Berjiwa Misioner” dimulai dengan benar. Dari penggembalaan pertama hingga kedua, DNA gereja tetap dijaga. Kesetiaan kepada arahan Tuhan, bukan kepada manusia, yang membuat gereja ini terusbertumbuh. Inilah kekuatan gereja yang benar. Bukan bergantung pada satu generasi, tetapi berakar pada Kristus. Kita perlu menjaga warisan iman yang sudah Tuhan percayakan ini. Jangan sampai kita

terikat pada figur manusia, tetapi tetap berakar kuat pada Firman Tuhan. Jangan mudah terpukau oleh tampilan luar atau hal-hal yang terlihat menarik di permukaan, melainkan perhatikan kedalaman dan kemurnian isi rohani yang diberitakan. Teruslah berdoa agar Firman Tuhan disampaikan dengan benar, murni, dan penuh kuasa, sehingga gereja tetap berjalan di jalur yang Tuhan kehendaki.

2. Gereja Yang Benar Akan Tetap Konsisten

(Mazmur 145:1–4)

Mazmur 145 berbicara tentang pujian yang terus-menerus dari generasi ke generasi. Konsistensi adalah tanda kedewasaan rohani. Gereja yang benar bukan gereja yang berubah- ubah mengikuti arus, tetapi gereja yang setia menjaga visi dan misi yang Tuhan berikan.

a) Gereja yang Benar Akan Tetap Memuji Allah Secara Konsisten

Mazmur 145:1 “Puji-pujian dari Daud. Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja, dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.

Dari penggembalaan pertama hingga kedua, visi tetap sama, yaitu berkarakter Kristus dan berjiwa misioner. Misi pun tetap sama, yaitu nama Kristus ditinggikan, Kerajaan-Nya ditegakkan, dan banyak jiwa diselamatkan. Konsistensi ini menunjukkan bahwa pusat gereja bukanlah manusia, melainkan Allah yang dipuji setiap hari. Pujian bukan sekadar bagian liturgi, tetapi identitas gereja. Gereja yang benar akan terus memuliakan Tuhan dalam segala keadaan, baik dalam musim kemudahan maupun tantangan.

b) Gereja yang Benar Akan Melahirkan Jemaat yang Konsisten

Mazmur 145:2 “Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.

Mazmur 145:2 berbicara tentang memuji Tuhan setiap hari. Konsistensi gereja akan melahirkan jemaat yang konsisten. Dari penggembalaan pertama hingga kedua, kelompok jemaat tetap memiliki karakter yang sama, yaitu keluarga-keluarga yang beribadah bersama di GBI Mawar Saron. Apa pun yang terjadi, ibadah tetap berjalan.Jemaat yang konsisten adalah jemaat yang tidak hanya datang saat kondisi baik, tetapi tetap setia dalam segala musim. Inilah ciri gereja yang berakar kuat. Konsistensi ibadah menunjukkan kesetiaan hati.

c) Gereja yang Benar Akan Menjangkau Lintas Generasi

Mazmur 145:4,6 “4Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu. 6Kekuatan perbuatan-perbuatan-Mu yang dahsyat akan diumumkan mereka, dan kebesaran-Mu hendak kuceritakan.

Satu generasi akan memasyhurkan pekerjaan Tuhan kepada generasi berikutnya. Gereja yang benar tidak hanya memikirkan generasi sekarang, tetapi juga generasi yang akan datang. Dari penggembalaan pertama hingga kedua, kelompok usia jemaat tetap beragam. Semua usia ada. Target jiwa baru pun tetap mencakup semua kelompok usia.

Gaya ibadah tetap dijaga dengan prinsip “modern terkendali.” Artinya, gereja tetap relevan tanpa kehilangan kekudusan. Gereja tidak sekadar menjaga warisan, tetapi juga memperluasnya. Warisan iman tidak disimpan, tetapi diteruskan. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini bisa diwujudkan dengan sederhana namun konsisten, misalnya dengan membawa seluruh anggota keluarga beribadah bersama, membiasakan anak-anak, remaja, hingga orang tua untuk bertumbuh dalam komunitas gereja.

Gereja yang sehat juga tidak hanya berfokus pada satu kelompok usia saja, tetapi membuka ruang bagi semua generasi untuk terlibat dan berkembang. Selain itu, gereja dipanggil untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan latar belakang sosial, ekonomi, maupun budaya. Gereja yang benar bukanlah komunitas yang tertutup untuk kalangan tertentu, melainkan komunitas yang terbuka dan siap merangkul siapa pun dalam kasih dan misi Kristus.

PENUTUPAN

Empat puluh delapan tahun adalah bukti kesetiaan Tuhan atas GBI Mawar Saron. Namun usia bukan jaminan kebenaran. Yang menjamin adalah fondasi dan konsistensi. Gereja yang benar adalah gereja yang dibangun di atas Firman Tuhan, berpusat pada Kristus, dan konsisten memuliakan Allah dari generasi ke generasi. Kita adalah gereja yang dibangun di atas Firman Tuhan. Kita akan menjaga warisan iman. Kita akan menjadi generasi yang melanjutkan api Tuhan.Kiranya di usia ke-48 ini, GBI Mawar Saron bukan hanya semakin besar, tetapi semakin dalam, semakin kokoh, dan semakin berdampak bagi bangsa dan generasi yang akan datang. Amin

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments