DAMAI YANG BERKELIMPAHAN – Pdt. Yohannes Nahuway, M.Th

Indonesian Bethel Women's Worship Mawar Saron
Bacaan Alkitab : Filipi 4:6; Galatia 6:4

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6)

“Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.” (Galatia 6:4)

Introduction

Setiap orang tentu menginginkan hidup yang damai. Namun damai yang dimaksud bukan sekadar perasaan tenang sesaat, melainkan damai yang berlimpah, damai yang cukup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga dapat dibagikan kepada orang lain. Seperti halnya berkat yang berlimpah memungkinkan seseorang menolong sesama, demikian pula damai yang berlimpah membuat hidup seseorang menjadi sumber ketenangan bagi orang-orang di sekitarnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi wanita, ada begitu banyak hal yang harus dipikirkan dan diurus. Tanggung jawab dalam keluarga, pekerjaan, hubungan sosial, hingga berbagai pertanyaan nyinyir yang dilemparkan sering kali membuat pikiran dipenuhi banyak hal. Kemampuan wanita untuk memikirkan banyak perkara sekaligus memang merupakan kekuatan, tetapi jika tidak dijaga dengan benar justru dapat menimbulkan kekhawatiran dan tekanan yang menghilangkan damai dalam hati. Karena itu, Alkitab memberikan prinsip sederhana namun sangat penting tentang bagaimana seorang wanita dapat memiliki damai yang berkelimpahan.

2 CARA WANITA MEMPUNYAI DAMAI YANG BERKELIMPAHAN

1. Stop Khawatir

Alkitab menuliskan dalam Filipi 4:6, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa danpermohonan dengan ucapan syukur.” Ayat ini menjadi pengingat bahwa kekhawatiran tidak pernah menjadi solusi bagi kehidupan manusia. Bahkan Rasul Paulus menuliskan nasihat ini kepada jemaat Filipi yang dikenal sebagai jemaat yang diberkati secara ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa kekhawatiran tidak hanya dialami oleh orang yang kekurangan; orang yang memiliki banyak hal pun tetap dapat hidup dalam kekhawatiran.

Sering kali manusia berpikir bahwa kebahagiaan dan ketenangan akan datang ketika memiliki lebih banyak hal. Namun kenyataannya, ketika sesuatu yang baru diperoleh, pikiran justru dipenuhi dengan berbagai kebutuhan dan kekhawatiran yang baru. Inilah sebabnya Rasul Paulus menasihatkan agar orang percaya tidak hidup dalam kekhawatiran, tetapi belajar membawa setiap pergumulan kepada Tuhan.

Solusi yang diberikan Alkitab sangat jelas: kekhawatiran harus diganti dengan doa. Ketika seseorang menghadapi tekanan atau persoalan, ia diajak untuk menyampaikan segala keinginannya kepada Tuhan melalui doa dan permohonan. Doa menjadi tempat seseorang mencurahkan isi hati, menyerahkan kekhawatiran, dan mengingat kembali bahwa Tuhan tetap memegang kendali atas hidupnya.

Namun doa yang diajarkan Alkitab bukan hanya doa yang berisi permintaan, melainkan doa yang disertai ucapan syukur. Ucapan syukur mengubah cara pandang seseorang terhadapmasalah yang dihadapinya. Ketika seseorang belajar bersyukur, ia tidak lagi hanya melihat kesulitan yang ada, tetapi juga melihat penyertaan Tuhan yang tetap bekerja dalam hidupnya. Melalui doa dan ucapan syukur, kekhawatiran perlahan digantikan oleh damai yang berasal dari Tuhan.

2. Stop Membanding-bandingkan

Cara kedua untuk memiliki damai yang berkelimpahan adalah berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Dalam Galatia 6:4 tertulis, “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannyasendiri; makai ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.” Ayat ini mengajarkan bahwa setiap orang dipanggil untuk melihat kehidupannya sendiri dengan rasa syukur, bukan terus-menerus membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain.

Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain sering kali menjadi sumber ketidakpuasan dalam hidup. Ketika seseorang mulai melihat keberhasilan, kekayaan, atau kebahagiaanorang lain, ia dapat merasa bahwa kehidupannya sendiri kurang baik. Padahal setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda dan takaran berkat yang berbeda pula.

Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan memberikan berkat sesuai dengan ukuran yang tepat bagi setiap orang. Ketika seseorang fokus pada apa yang dimiliki orang lain, ia akan mudahmerasa tidak cukup. Namun ketika ia belajar melihat dan mensyukuri apa yang Tuhan berikan dalam hidupnya sendiri, damai akan tetap terjaga di dalam hatinya.

Membanding-bandingkan bukan hanya merusak damai pribadi, tetapi juga dapat merusak hubungan dengan orang lain. Perbandingan dapat menimbulkan rasa iri, kecewa, bahkan kemarahan. Karena itu, Alkitab menasihatkan agar setiap orang menguji dirinya sendiri dan bersyukur atas apa yang ada dalam kehidupannya. Dengan cara ini, seseorang dapat menjaga hatinya tetap damai dan tidak terjebak dalam tekanan yang tidak perlu.

Cover

Damai yang berkelimpahan bukanlah sesuatu yang terjadi secara otomatis dalam hidup seseorang. Damai itu lahir dari keputusan untuk hidup sesuai dengan prinsip firman Tuhan.

Ketika seseorang berhenti hidup dalam kekhawatiran dan belajar menyerahkan segala hal kepada Tuhan melalui doa dan ucapan syukur, hatinya akan dipenuhi ketenangan yang berasal dari Tuhan. Demikian pula ketika seseorang berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain dan belajar mensyukuri kehidupannya sendiri, ia akan menemukan damai yang tidak mudah terguncang.

Kedua cara ini mungkin terdengar sederhana, tetapi jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, akan membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari. Dengan berhenti khawatir dan berhenti membanding-bandingkan, seorang wanita dapat menjalani hidup dengan hati yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, dan damai yang terus berlimpah dalam hidupnya

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments