Bacaan Alkitab : 1 Petrus 4:7–11
Ayat Renungan : 1 Petrus 4:10
“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”
Pelayanan merupakan salah satu kunci rohani yang Tuhan tetapkan untuk membawa umat-Nya hidup dalam kelimpahan yang utuh. Memasuki masa kelimpahan, berkat tidak hanya berbicara tentang kecukupan jasmani, tetapi juga keseimbangan jiwa dan roh. Tanpa keseimbangan tersebut, kelimpahan justru berpotensi merusak karakter dan menghilangkan kendali diri. Firman Tuhan menegaskan bahwa pelayanan yang benar menolong orang percaya mengelola hidupnya dengan sehat sehingga berkat tidak menjauhkan manusia dari Tuhan, melainkan semakin mendekatkannya kepada kehendak-Nya.
Pelayanan tidak berangkat dari keinginan untuk memperoleh imbalan, melainkan sebagai respons atas karya keselamatan Kristus. Orang percaya melayani karena telah terlebih dahulu dilayani oleh Tuhan Yesus melalui salib. Kesadaran ini membentuk sikap hati yang rendah, benar, dan bertanggung jawab. Pelayanan yang lahir dari pengenalan akan Kristus menuntun setiap orang percaya untuk berkata dengan jujur di hadapan Tuhan, sebagaimana tertulis dalam Lukas 17:10, bahwa tugas pelayanan adalah kewajiban yang dilakukan dengan setia, bukan sarana untuk meninggikan diri.
Surat 1 Petrus ditulis dalam konteks dunia yang secara lahiriah tampak kuat dan makmur, tetapi rusak secara jiwani dan rohani. Roma pada masa itu menunjukkan kemegahan fisik, namun kehilangan arah moral dan kebenaran. Di tengah kondisi tersebut, Petrus meneguhkan jemaat agar tetap hidup berbeda dari dunia, menjaga iman, dan memelihara kekudusan. Pelayanan menjadi sarana Tuhan untuk menjaga kendali diri umat-Nya agar tidak terseret arus dunia yang kehilangan nilai dan kebenaran.
Firman Tuhan dalam 1 Petrus 4:7–11 menuntun pelayanan dalam tiga dimensi waktu. Pelayanan menolong orang percaya menatap masa depan dengan pengharapan, karena hidup diarahkan kepada kekekalan. Pelayanan juga memulihkan masa lalu, sebab kasih menutupi banyak dosa dan membawa pengampunan. Pada saat yang sama, pelayanan memberi kekuatan untuk menjalani masa sekarang, bahkan di tengah masalah dan tekanan hidup. Orang percaya melayani Tuhan bukan karena hidup tanpa masalah, melainkan karena dalam pelayanan, hati diarahkan kembali kepada Tuhan, bukan kepada persoalan.
Pelayanan yang sejati mengajarkan penguasaan diri, kesediaan mengasihi, kerelaan memberi, dan kesetiaan menggunakan karunia bagi kepentingan bersama. Ketika setiap orang percaya memahami dan menghidupi kunci pelayanan, hidup tidak hanya diberkati secara lahiriah, tetapi juga dibentuk menjadi berkat bagi sesama. Dengan demikian, pelayanan menjadi jalan Tuhan untuk menuntun umat-Nya menyongsong kebahagiaan yang sejati dan bertanggung jawab di hadapan-Nya.
✨Pelayanan bukan soal seberapa besar berkat yang kita terima, tetapi seberapa baik kita menguasai diri agar tetap berguna bagi Tuhan dan sesama.✨
– AG