Bacaan Alkitab : Mazmur 103:1-5

Ayat Renungan : Mazmur 103:1

Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!”

Para ilmuwan memperkirakan bahwa manusia dapat menghasilkan lebih dari 6.200 pikiran per hari, dan sebagian besar di antaranya bersifat negatif atau berorientasi pada masalah. Fakta ini menunjukkan betapa mudahnya hati manusia tersedot pada kecemasan, kekhawatiran, dan tekanan hidup. Namun di tengah kecenderungan itu, Alkitab mengingatkan sebuah prinsip yang sangat kuat dan indah: jiwa manusia mampu melihat ke belakang, ke depan dan masa kini. Mazmur 103:1 menegaskan, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!” Kunci hidup yang bersukacita adalah kemampuan untuk melihat dan menghitung berkat Tuhan.

Pertama, jiwa dipanggil untuk melihat berkat Tuhan di masa lalu. Tubuh tidak dapat kembali ke hari kemarin, namun jiwa bisa mengingat berbagai kebaikan Tuhan di sepanjang perjalanan hidup. Mazmur 103:2 berkata, “Janganlah lupakan segala kebaikan-Nya.” Banyak orang gagal bersyukur karena ketika menoleh ke masa lalu, yang diingat justru luka, kegagalan, dan kekecewaan. Padahal Tuhan memerintahkan kita untuk mengingat kembali pertolongan-Nya, bagaimana Ia memelihara, menyembuhkan, menolong, menguatkan, bahkan mengangkat kita pada saat kita tidak memiliki apa-apa. Melihat masa lalu dengan kacamata berkat akan menuntun jiwa untuk memuji Tuhan.

Kedua, jiwa dipanggil melihat berkat Tuhan di masa depan. Mazmur 103:3–4 menegaskan bahwa Dialah yang mengampuni segala kesalahan dan menebus hidup kita dari lubang kubur. Daud menuliskan ini ketika ia telah melewati berbagai fase hidup, dari tidak dianggap, menjadi pahlawan, menjadi pelarian, hingga akhirnya menjadi raja. Meski gagal dan jatuh, ia melihat pengampunan Allah sebagai berkat terbesar yang mengubah masa depannya. Berkat terbesar bukanlah materi, melainkan keselamatan dan jaminan hidup kekal. Memandang masa depan dalam terang kasih dan pengampunan Tuhan membuat kita tetap memiliki harapan.

Ketiga, jiwa dipanggil melihat berkat Tuhan di masa sekarang. Mazmur 103:5 menegaskan bahwa Tuhan “memuaskan hasratmu dengan kebaikan.” Tidak semua yang kita inginkan adalah kebaikan bagi kita, tetapi Tuhan memberi sesuai apa yang Ia tahu benar dan terbaik. Berkat hari ini seperti kesehatan, keluarga, pekerjaan, kesempatan hidup, kekuatan rohani, sering kali tidak terlihat karena kita lebih fokus pada apa yang belum kita miliki. Ketika kita mulai menghitung berkat masa kini, hati menjadi lembut dan ucapan syukur kembali muncul.

Pada akhirnya, Mazmur 103 mengajarkan kita untuk melakukan disiplin rohani: melihat dan menghitung berkat Tuhan dari masa lalu, masa depan, dan masa kini. Mari tuntun jiwa kita untuk tetap bersyukur dalam segala musim hidup. Di tengah dunia yang penuh tekanan, ucapan syukur bukan tindakan otomatis, tetapi pilihan sadar untuk melihat Tuhan di balik setiap perjalanan hidup. 

Sebelum engkau mengeluh tentang apa yang tidak kau miliki, lihatlah kembali apa yang Tuhan sudah, sedang, dan akan kerjakan dalam hidupmu – di sanalah ucapan syukur lahir.

-GN