Bacaan Alkitab : Mazmur 4:1-8
Ayat Renungan : Mazmur 4: 2
“Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku!”
Tidak sedikit orang mengira bahwa damai sejahtera akan otomatis hadir, ketika berkat bertambah dan hidup semakin mapan. Namun, realitas sering berkata sebaliknya: semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula kegelisahan yang dirasakan. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa damai bukanlah hasil dari kelimpahan materi, melainkan buah dari relasi yang benar dengan Allah. Tanpa damai sejahtera, berkat yang melimpah pun tidak pernah benar-benar dapat dinikmati.
Alkitab memakai satu kata yang utuh untuk menggambarkan damai sejahtera, yaitu shalom. Kata ini tidak hanya berbicara tentang ketiadaan konflik, tetapi tentang keadaan hidup yang aman, utuh, dan terlindungi di hadapan Tuhan. Daud memahami hal ini dengan baik. Dalam Mazmur 4, ia menuliskan doanya di tengah tekanan, ancaman, dan ketidakpastian. Menariknya, Daud tidak memulai dengan membela dirinya atau mengeluhkan keadaan, melainkan berseru kepada Allah yang ia kenal sebagai Pribadi yang membenarkan dan memberi kelegaan. Melalui hal ini, kita belajar bahwa damai sejahtera rohani lahir ketika kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.
Damai sejahtera juga berkaitan dengan kondisi jiwa. Daud tidak menyangkal emosinya; ia mengakui kemarahan, kegelisahan, bahkan ketakutannya. Namun ia memilih untuk tidak membiarkan perasaan itu menyeretnya ke dalam dosa. Ia berbicara kepada jiwanya sendiri, menenangkan hati di hadapan Tuhan, dan memilih diam daripada memperpanjang kegelisahan. Sikap ini mengajarkan bahwa ketenangan batin tidak selalu lahir dari berbagai keluh kesah kepada banyak orang, melainkan dari kemampuan untuk membawa hati yang gelisah kembali tunduk kepada Allah.
Pada akhirnya, damai sejahtera juga berdampak secara jasmani. Mazmur 4 ditutup dengan kesaksian yang sederhana namun mendalam. Daud dapat berbaring dan tidur dengan tenang karena ia percaya bahwa Tuhanlah yang menjaganya. Damai sejahtera sejati membuat seseorang tetap tenang baik dalam kelimpahan maupun kekurangan. Ia tidak bergantung pada situasi, melainkan pada keyakinan bahwa hidupnya berada di dalam tangan Tuhan yang setia. Inilah kunci menikmati hidup di setiap musim yang Tuhan izinkan.
✨Damai sejahtera bukanlah hasil dari apa yang kita miliki, melainkan dari siapa yang kita percayai sepenuhnya dalam hidup ini.✨
-GN
Bagikan ini:
- Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
- Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
- Klik untuk berbagi di Utas(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
- Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik