Jakarta Pusat, 30 Januari 2026 – Gembala Sidang GBI Mawar Saron, Pdt. Yohannes Nahuway, M.Th., bersama tim melakukan kunjungan persahabatan ke Gereja Anglikan yang berlokasi di Jl. Arief Rachman Hakim No. 5, Menteng, Jakarta Pusat. Gereja yang dikenal sebagai All Saints Anglican Church Jakarta ini merupakan salah satu gereja berbahasa Inggris tertua di Indonesia dan memiliki nilai sejarah yang panjang dalam perjalanan kekristenan di Nusantara.
Dalam pertemuan tersebut, rombongan GBI Mawar Saron disambut oleh Pimpinan Gereja Anglikan di Indonesia, Bapak Revd. Stevanus Mudjianto (Acting Dean). Suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh dialog. Kedua belah pihak membahas sejarah masing-masing gereja, kekayaan liturgi, serta makna simbol-simbol yang digunakan dalam ibadah. Secara khusus, diskusi menyoroti tradisi liturgi Anglikan yang menekankan keseimbangan antara tata ibadah yang terstruktur, pembacaan Kitab Suci, doa bersama, dan makna simbolis dalam setiap unsur peribadahan.
Pada kesempatan tersebut, Gembala Sidang GBI Mawar Saron juga menerima cenderamata berupa The Prayer Book of The Anglican Church in Indonesia, sebuah buku doa resmi yang menjadi pedoman liturgi dalam pelayanan Gereja Anglikan di Indonesia.
Sejarah Singkat Gereja Anglikan di Indonesia
Gereja Anglikan di Indonesia berakar dari pelayanan London Missionary Society yang mendirikan All Saints’ pada tahun 1819 sebagai pusat pembinaan misionaris menuju Tiongkok.
Bangunan gereja awalnya terbuat dari bambu dan dikenal sebagai Engelsche Kerk (Gereja Inggris), sebelum kemudian pada tahun 1831 dibangun kembali dalam gaya arsitektur Georgia yang masih berdiri hingga kini, meskipun telah mengalami beberapa penyesuaian. Pelayanan berkembang signifikan sejak kedatangan Pendeta Walter Medhurst pada tahun 1822, yang memperluas pelayanan kepada komunitas Tionghoa, Melayu, dan Inggris di Batavia. Selain sebagai rohaniwan, Medhurst juga dikenal sebagai pelopor penerbitan Kristen berbahasa Tionghoa. Seiring waktu, gereja ini semakin bercirikan Anglikan melalui penambahan ruang altar dan tempat suci pada pertengahan abad ke-19, serta mempertahankan kesederhanaan ornamen yang mencerminkan tradisi Protestan Inggris.
Secara historis, Gereja Anglikan berakar dari Gereja Inggris yang berpusat di Inggris dan berkembang dengan tradisi liturgi yang khas, tanpa meninggalkan fondasi iman rasuli dan pengakuan iman Kristen yang historis. Dalam dialog tersebut, Gembala Sidang GBI Mawar Saron juga membagikan secara singkat perjalanan sejarah GBI Mawar Saron sebagai bagian dari Gereja Bethel Indonesia yang terus bertumbuh dalam pelayanan dan penggembalaan jemaat.
Sejarah lengkap GBI Mawar Saron dapat dibaca melalui tautan berikut: SEJARAH BERDIRINYA GEREJA BETHEL INDONESIA JEMAAT MAWAR SARON KELAPA GADING, JAKARTA UTARA
Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antar-gereja, tetapi juga momentum untuk memperluas wawasan mengenai kekayaan tradisi kekristenan yang beragam. Baik GBI MawarSaron maupun Gereja Anglikan memiliki panggilan yang sama dalam memberitakan Injil, meskipun dengan corak liturgi dan sejarah yang berbeda. Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi terjalinnya komunikasi dan kerja sama yang semakin baik dalam semangat persaudaraan tubuh Kristus di Indonesia.
Tuhan Yesus memberkati kita semua.
Salam Kelimpahan menuju GBI Mawar Saron 2.0.






